KORAN MANDALA – Dosen Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), Linus Pasasa, menggagas konsep apartemen ayam maggot sebagai salah satu solusi pengolahan sampah organik dari tingkat RW di Kota Bandung.
Apartemen ayam maggot tersebut salah satunya berada di RW 02, Kelurahan Pasirlayung, Kota Bandung. Konsep ini mulai didesain sejak April 2026, seiring adanya program Gaslah dari Pemerintah Kota Bandung.
Linus mengatakan, konsep tersebut memanfaatkan sampah organik yang terkumpul melalui program Kang Pisman untuk kemudian diolah menjadi pakan maggot dan ayam.
“Jadi ini apartemen ayam didesain sejak April 2026, sejak adanya program Gaslah dari Pemkot Bandung, sehingga kami manfaatkan sampah yang terkumpul oleh Kang Pisman dengan mendesain apartemen ayam maggot,” kata Linus. Sabtu (12/9/2026)
Menurutnya, konsep tersebut dinilai efisien diterapkan di kawasan perkotaan karena tidak membutuhkan lahan yang luas. Apartemen ayam di RW 02 hanya menggunakan lahan sekitar 1×6 meter dan dibuat dalam empat tingkat.
“Ini sangat efisien untuk perkotaan karena tanah yang digunakan hanya 1×6 meter dan kapasitasnya cukup besar dengan ada empat tingkat. Yang paling atas ayam, di bawahnya maggot, ayam lagi, dan maggot berikutnya,” ujarnya.
Dengan sistem tersebut, kotoran ayam dapat langsung diserap oleh maggot sehingga aroma yang ditimbulkan ke lingkungan dapat ditekan.
“Sehingga kotoran ayam juga langsung diserap oleh maggot, sehingga aroma atau bau ke lingkungan sangat minim,” katanya.
Selain mengurangi bau, maggot yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ayam. Linus menyebut proses tersebut membuat siklus biokonversi berlangsung cepat.
“Siklus biokonversinya sangat cepat. Sampah organik yang terkumpul dari Gaslah ini sekitar dua hari sudah beres, sudah bisa jadi kompos, dibandingkan dengan komposter yang tiga bulan sampai enam bulan baru jadi,” tuturnya.
Ia menilai konsep tersebut dapat dikembangkan di setiap RW maupun kelurahan apabila mendapat dukungan dari Pemkot Bandung.
“Kalau ini kita adopsi oleh Pemkot, sangat cepat mengurai sampah organik dari sumber, dari hulu, sehingga masalah sampah organik akan cepat teratasi,” katanya.
Kapasitas Masih Defisit 200 Kilogram Sampah Organik
Untuk apartemen ayam maggot di RW 02 Pasirlayung, Linus menyebut kapasitas pengolahan mencapai 250 kilogram sampah organik per hari. Namun, saat ini sampah yang masuk baru sekitar 50 kilogram per hari.
“Yang untuk di sini kita desain hanya untuk RW 02 di sini, dan kapasitasnya maksimum hanya 50 kilogram per hari. Sedangkan kapasitas apartemen ayam di sini 250 kilogram, artinya kita masih defisit 200 kilogram per hari,” ujarnya.
Linus mengatakan, pihaknya masih terbuka jika ada RW lain yang ingin mengirimkan sampah organiknya untuk diolah di lokasi tersebut.
“Seandainya ada RW-RW lain yang bisa mengantar ke sini, kami siap untuk mengolahnya karena kami kekurangan sampah 200 kilogram per hari,” katanya.
Saat ini, konsep apartemen ayam maggot tersebut telah diterapkan di sejumlah lokasi. Total terdapat tujuh apartemen ayam maggot yang telah dibuat.
Di Kelurahan Tamansari terdapat tiga lokasi, yakni RW 11 Rumah Deret Tamansari, RW 15 di bawah Flyover Pasupati, dan RW 9 dekat Grandia Pasupati.
Selain itu, terdapat apartemen ayam maggot di Kelurahan Lebak Siliwangi, Kecamatan Coblong. Konsep serupa juga telah berjalan di Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat (KBB), tepatnya di Perumahan Kompleks PPR ITB, serta di RW 06 Kelurahan Cigadung.
“Total kalau dikomunikasikan semua kurang lebih sudah bisa mengurai dua ton sampah organik oleh adanya apartemen ayam maggot ini,” katanya.
Meski demikian, Linus menilai kapasitas tersebut masih belum sebanding dengan jumlah sampah organik yang dihasilkan di Bandung.
“Tentu itu masih sangat kurang karena di Bandung sangat banyak sampah organik. Tinggal apa kami butuh CSR-CSR dari perusahaan lain untuk mensupport kami,” ujarnya.
Telur Disalurkan untuk Warga
Tak hanya ayam dan maggot, apartemen tersebut juga dimanfaatkan untuk memelihara sejumlah hewan lain, seperti ikan nila, ikan sidat, dan entok jumbo.
Untuk ayam, terdapat ayam petelur, ayam kampung petelur, ayam Elba, serta ayam kampung pedaging.
“Selain itu, kami juga pelihara ikan nila, ada juga ikan sidat yang kaya akan omega 3, dan ada entok jumbo,” katanya.
Sementara hasil telur dari ayam yang dipelihara di apartemen tersebut saat ini belum dipasarkan secara luas. Telur masih disalurkan kepada warga sekitar.
“Sementara hasil telur ini kami salurkan ke warga di sini. Jadi belum meningkat ke penjualan karena kapasitas telurnya belum terlalu banyak,” tuturnya.
Telur tersebut juga direncanakan untuk mendukung penanganan stunting dan kebutuhan Posyandu di RW 02.
“Untuk mengatasi stunting di RW 02 dan juga untuk Posyandu, kami akan bagikan juga ke warga yang sangat rentan atas kekurangan gizi,” katanya.
Jika produksi telur sudah meningkat, sebagian hasilnya akan dijual melalui bank sampah. Hasil penjualan nantinya dapat masuk ke kas bank sampah dan RW, sekaligus membantu mensubsidi kebutuhan pakan maupun pengolahan di apartemen ayam maggot.
“Sebagian akan dimasukkan kas bank sampah dan RW, sebagian untuk mensubsidi pakan atau pengolahan di sini,” ujarnya.
Linus menyebut pengembangan apartemen ayam maggot di sejumlah lokasi lainnya masih dalam tahap penjajakan
