KORAN MANDALA – Tawa anak-anak mulai menghidupkan suasana Kampung KB Purwamekar, Kelurahan Purwamekar, Kecamatan Purwakarta, setiap sore. Mereka bergantian meluncur di sebuah perosotan bambu yang baru dibangun di kawasan tersebut.
Wahana sederhana bernama PROKAR (Perosotan Purwamekar) itu kini bukan sekadar tempat bermain anak. Di balik bambu yang dirangkai menjadi perosotan, warga mulai menyimpan mimpi lebih besar: menjadikan kampung mereka sebagai kawasan wisata berbasis potensi lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
PROKAR merupakan hasil kolaborasi masyarakat dengan Tim KKN-T Inovasi 2026 IPB University. Pembangunannya dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari perangkat kelurahan, kelompok tani, ibu-ibu PKK hingga warga sekitar.
Kemarau Panjang dan Potensi Abu Vulkanik, Pemkab Purwakarta Imbau Warga Waspada
Mereka bersama-sama membersihkan lahan, menyiapkan material bambu hingga merakit wahana permainan tersebut.
Bambu dipilih karena mudah ditemukan di lingkungan sekitar dan dinilai ramah lingkungan. Material tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mengangkat kearifan lokal melalui wahana permainan sederhana.
Kehadiran PROKAR juga diharapkan dapat mengenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak di tengah semakin kuatnya pengaruh teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Kini, kawasan tersebut mulai terlihat lebih hidup. Anak-anak memiliki ruang bermain di lingkungan tempat tinggal mereka, sementara warga melihat peluang baru untuk mengembangkan kampung menjadi destinasi yang lebih menarik.
Salah seorang warga Kampung KB Purwamekar, Lestari, mengaku senang melihat perubahan tersebut.
“Iya, sekarang jadi ramai. Anak-anak hampir setiap hari main di sini. Dulu belum ada tempat seperti ini, sekarang mereka punya tempat bermain dekat rumah. Jadi kampung juga terasa lebih hidup,” ujar Lestari.
Namun, bagi warga, harapan terhadap PROKAR tidak berhenti pada ramainya anak-anak bermain. Mereka ingin wahana tersebut menjadi pintu masuk bagi pengembangan potensi kampung.
“Mudah-mudahan ke depannya makin banyak orang yang datang ke sini. Kalau ramai kan bukan cuma anak-anak yang senang, tapi ekonomi warga juga bisa ikut bergerak. Siapa tahu nanti banyak yang jualan, UMKM berkembang, dan permainan tradisional seperti ini tetap dikenal sama anak-anak sekarang,” tuturnya.
Jika kunjungan meningkat, warga melihat peluang ekonomi yang cukup besar. Usaha kuliner, produk UMKM, jasa parkir hingga pemasaran hasil pertanian lokal berpotensi ikut tumbuh seiring berkembangnya kawasan.
Di sisi lain, proses pembangunan PROKAR menjadi bukti bahwa pengembangan kampung wisata tidak selalu harus dimulai dari pembangunan besar. Semangat gotong royong dan pemanfaatan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar justru menjadi modal awal masyarakat Purwamekar.
Ke depan, warga berharap PROKAR dapat terus dikembangkan dan menjadi salah satu ikon Kampung KB Purwamekar. Bukan hanya sebagai ruang bermain anak, tetapi juga sebagai titik awal lahirnya kawasan wisata yang mengangkat potensi lokal, melestarikan permainan tradisional dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Bagi warga Purwamekar, mimpi membangun kampung wisata itu kini telah dimulai dari sesuatu yang sederhana: sebuah perosotan bambu dan semangat gotong royong.
