KORAN MANDALA –Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Yayasan Al-Muttaqin, Kampung Kebon Hui, Desa Cigugurgirang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, berlangsung dengan nuansa berbeda.
Selain diisi kegiatan keagamaan, peringatan Maulid Nabi tersebut menghadirkan Pagelaran Wayang Ajen Junior yang menampilkan dalang cilik Aden Azka Asstroberi Putra.
Dalam pertunjukan bertajuk “Cepot Nyantri” dengan kisah Gatotkaca Yuda, Aden tampil ekspresif selama sekitar 45 menit di hadapan ratusan jamaah dan masyarakat yang hadir, Minggu (6/9/2026).
Comeback Manis Persib! Tertinggal Cepat dari PSM, Maung Bandung Menang 3-1
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Safdahati Istifal—Safari Dakwah dan Haflah Tilawah Al-Qur’an Qori Nasional serta Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kehadiran wayang tidak sekadar menjadi hiburan. Pertunjukan juga digunakan sebagai medium untuk menyampaikan pesan keteladanan Rasulullah melalui karakter dan dialog para tokoh pewayangan.
Pesan Maulid Disampaikan Lewat Cepot
Dalam kisah Gatotkaca Yuda, Aden membawakan karakter Gatotkaca yang berhadapan dengan prajurit Kerajaan Gilingwesi. Adegan peperangan tersebut menggambarkan keberanian seorang ksatria dalam mempertahankan kebenaran dan melindungi negeri Amarta.
Gerakan wayang yang dinamis berpadu dengan musik dan vokal para seniman muda sehingga membuat suasana pertunjukan semakin hidup.
Namun, pesan utama pertunjukan justru semakin terasa ketika tokoh-tokoh Panakawan seperti Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng muncul.
Melalui karakter Cepot, pesan Maulid disampaikan dengan bahasa yang lebih ringan dan dekat dengan masyarakat. Empat sifat utama Nabi Muhammad SAW, yakni Shiddiq, Tabligh, Amanah, dan Fathanah, diterjemahkan ke dalam pesan kehidupan sehari-hari.
Shiddiq dikaitkan dengan pentingnya kejujuran di tengah derasnya arus informasi. Tabligh menekankan keberanian menyampaikan kebenaran, Amanah mengingatkan tentang tanggung jawab menjaga kepercayaan, sedangkan Fathanah menekankan pentingnya kecerdasan yang digunakan untuk kemaslahatan.
Dengan pendekatan tersebut, pesan keagamaan tidak hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga melalui seni tradisi yang sudah lama dikenal masyarakat.
Aden Azka, Dalang Cilik di Tengah Regenerasi Seni Tradisi
Penampilan Aden Azka Asstroberi Putra yang masih berusia sembilan tahun turut menjadi perhatian dalam pagelaran tersebut.
Di usia yang masih sangat muda, Aden mampu memainkan karakter wayang dengan gerakan yang lincah, membangun ekspresi tokoh, serta mengikuti perubahan suasana dari adegan serius hingga bagian yang jenaka.
Kemampuannya membawakan karakter Gatotkaca dan para Panakawan menunjukkan bahwa keterampilan seorang dalang tidak hanya berkaitan dengan teknik memainkan wayang. Seorang dalang juga dituntut memiliki kemampuan membangun suasana, berkomunikasi dengan penonton serta memahami karakter setiap tokoh.
Aden merupakan putra H. Asep Haerlusna dan Hj. Tati, pemilik RM Asstroberi, yang turut memberikan dukungan terhadap proses pengembangan minat generasi muda terhadap seni budaya.
Didukung Seniman Muda Lulusan ISBI Bandung
Pertunjukan Wayang Ajen Junior semakin hidup dengan dukungan pemusik dan penyanyi yang merupakan lulusan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.
Kolaborasi tersebut membuat musik, vokal, gerak wayang dan dramatika adegan menyatu dalam pertunjukan.
Musik tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi juga membantu membangun suasana, mulai dari ketegangan dalam adegan peperangan hingga bagian humor yang dibawakan para Panakawan.
Kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam seni tradisi.
Wayang dan Pesan Keagamaan
Kehadiran Wayang Ajen Junior dalam peringatan Maulid Nabi juga menunjukkan bahwa seni tradisi masih dapat digunakan sebagai media penyampaian nilai-nilai keagamaan dan sosial.
Wayang memiliki sejarah panjang sebagai media hiburan sekaligus penyampaian pesan moral di tengah masyarakat.
Melalui pertunjukan tersebut, nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, keberanian dan kecerdasan disampaikan dalam bentuk cerita dan karakter yang lebih mudah diterima berbagai kalangan.
Kegiatan di Yayasan Al-Muttaqin juga tidak hanya menghadirkan pagelaran wayang. Rangkaian acara diisi Parade Seni Islam Tradisional, santunan anak yatim dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat serta Pasar Murah Program Fraksi PKB.
Kegiatan tersebut turut dihadiri tokoh agama, tokoh masyarakat, ratusan jamaah dari berbagai daerah serta masyarakat sekitar, termasuk Ketua DPRD Kabupaten Bandung Barat dari Fraksi PKB, H. Ade Wawan, M.Pd.I.
Bagi Wayang Ajen Junior, keterlibatan dalang cilik seperti Aden Azka menjadi bagian dari upaya regenerasi seni pedalangan yang dibina Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi di bawah binaan Ki Dalang Wawan Ajen.
Regenerasi tersebut tidak hanya membutuhkan kemampuan memainkan wayang, tetapi juga ruang tampil, pendampingan dan kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal serta mencintai seni tradisi sejak dini.
Penampilan Aden dalam peringatan Maulid Nabi di Bandung Barat akhirnya menjadi pertemuan antara seni, agama dan regenerasi budaya.
Dari panggung wayang, pesan tentang keteladanan Rasulullah disampaikan melalui karakter Gatotkaca dan para Panakawan. Sementara dari sosok Aden, terlihat bahwa generasi muda masih memiliki ruang untuk melanjutkan keberadaan seni pedalangan di tengah perkembangan zaman.
