ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA – Green Canyon menjadi salah satu destinasi wisata alam di Pangandaran yang dikenal hingga mancanegara. Di balik nama yang mendunia tersebut, kawasan yang memiliki nama asli Cukang Taneuh ini ternyata menyimpan sejarah penamaan yang cukup unik.
Green Canyon terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.
Pemandu wisata Green Canyon, Wandi, menuturkan, nama Green Canyon bermula dari kedatangan seorang wisatawan asal Kanada bernama Bill John pada sekitar 1990-an.
Menariknya, wisatawan tersebut awalnya datang bukan untuk menikmati panorama Green Canyon. Ia disebut datang untuk mencari biawak yang berada di kawasan tersebut.
”Awalnya bukan mencari pemandangan dia, tapi awalnya dia mencari hewan yang namanya biawak. Mungkin untuk penelitian atau apa nggak tahu ya. Yang jelas dia tuh ke sini cari biawak,” ujar Wandi kepada Koran Mandala Minggu (6/9/2026)
Dalam perjalanan, wisatawan tersebut justru menemukan pemandangan tebing dan sungai yang menurutnya menyerupai kawasan Green Canyon di Amerika Serikat.
”Sesampainya di sana, ‘Oh ternyata ini ada tempat bagus ya seperti ini.’ Nah, karena dia orang Kanada mungkin ya, dia ingetnya sama Green Canyon yang ada di Amerika,” kata Wandi.
Perbedaan warna alam kemudian membuat kawasan tersebut disebut Green Canyon. Jika Green Canyon di Amerika memiliki karakteristik yang lebih kering dan panas, Sedangkan kawasan di Pangandaran justru dipenuhi pepohonan dan vegetasi hijau.
”Kalau Green Canyon di Amerika kan kering. Kalau di sini hijau, makanya jadi ada nama Green-nya. Nah di situlah asal muasalnya nama Green Canyon,” ujarnya.
Meski lebih dikenal wisatawan dengan nama Green Canyon, masyarakat setempat sebenarnya memiliki nama sendiri untuk kawasan tersebut, yakni Cukang Taneuh.
Wandi menjelaskan, Cukang Taneuh berasal dari bahasa Sunda. Cukang berarti jembatan, sedangkan taneuh berarti tanah. Nama tersebut merujuk pada bentukan alam berupa jembatan tanah yang menghubungkan dua sisi kawasan.
”Cukang itu jembatan, Taneuh itu tanah. Ada jembatan dari seberang satu ke seberang sini nyambung. Jadi itu alami ya,” katanya.
Seiring perkembangan pariwisata, Green Canyon yang pada awalnya dikelola secara swadaya oleh kelompok-kelompok masyarakat kemudian mulai disatukan dalam pengelolaan bersama dengan pemerintah daerah sekitar menjelang tahun 2000-an.
Kini, kawasan tersebut tidak hanya menjadi tujuan wisatawan domestik. Wisatawan dari berbagai negara seperti Eropa, Australia, Jepang hingga Korea juga disebut datang menikmati keindahan Green Canyon.
”Ada yang dari Eropa, Australia, kayak dari Jepang, Korea, banyak,” ujar Wandi.
Menurutnya, perkembangan Green Canyon juga memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat sekitar. Kehadiran wisatawan mendorong tumbuhnya UMKM, warung hingga pekerjaan sebagai pemandu wisata.
”Alhamdulillah ada wisata Green Canyon di sini udah mengangkat masyarakat di sini terutama dari segi ekonomi. UMKM juga banyak, kayak warung-warung ini banyak, muncul kayak tour leader,” katanya.
Wandi berharap Green Canyon dapat terus berkembang dan semakin dikenal dunia tanpa menghilangkan karakter alam yang menjadi daya tarik utamanya.
”Harapannya saya di sini, wisata Green Canyon itu semakin lebih maju lagi, semakin tambah mendunia lagi,” tuturnya
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






