KORAN MANDALA –Musim kemarau yang berkepanjangan mulai menyulitkan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Purwakarta untuk mendapatkan air bersih.
Sumber air yang selama ini menjadi andalan perlahan mengering, memaksa masyarakat mencari pasokan ke lokasi lain meski harus menempuh jarak cukup jauh.
Kondisi tersebut dirasakan warga Kampung Bayuwangi, Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa. Sebagian warga bahkan harus menempuh jarak sekitar satu kilometer hanya untuk mendapatkan air yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari.
PKL di Kantor Desa Purwakarta Berujung Petaka, Dua Siswi Laporkan Dugaan Pelecehan
“Sekarang kalau mau ambil air harus lumayan jauh, sekitar satu kilometer. Soalnya sumber air yang dekat sudah mulai berkurang, jadi kami harus cari ke tempat lain,” ujar Tanti, salah seorang warga Kampung Bayuwangi.
Bagi warga, persoalan air bukan kebutuhan yang bisa ditunda. Mandi, memasak, mencuci hingga kebutuhan rumah tangga lainnya tetap harus dilakukan setiap hari, sementara sumber air di sekitar permukiman semakin terbatas.
Warga pun terpaksa mengatur penggunaan air yang tersedia agar bisa mencukupi berbagai kebutuhan. Ketika sumber air terdekat mulai mengering, waktu dan tenaga tambahan harus dikeluarkan hanya untuk memperoleh kebutuhan dasar tersebut.
“Kalau air susah begini memang repot, karena setiap hari pasti butuh. Buat mandi, masak, mencuci, semuanya perlu air. Jadi kalau sumbernya mulai kering, kami harus cari lagi ke tempat yang masih ada airnya,” kata Tanti.
Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian dari Koramil 1901/Wanayasa Kodim 0619/Purwakarta. Sebanyak tiga tangki air bersih disalurkan kepada warga Kampung Bayuwangi untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terdampak kekeringan.
Bantuan itu setidaknya meringankan beban warga yang sebelumnya harus mencari air hingga sekitar satu kilometer dari tempat tinggal mereka. Pasokan dari tangki dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah semakin terbatasnya sumber air.
Dandim 0619/Purwakarta Letkol Arh Fredy Jaguar menyebut penyaluran air bersih tersebut sebagai bentuk kepedulian TNI terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan.
Sementara itu, Danramil 1901/Wanayasa Kapten Arm Bambang Priambodo memastikan kondisi warga akan terus dipantau selama musim kemarau masih berlangsung.
“Alhamdulillah ada bantuan air, jadi untuk sementara sangat membantu. Kami berharap bantuan seperti ini bisa terus ada kalau kemaraunya masih panjang, karena kebutuhan air tidak hanya sehari atau dua hari,” ujar warga lainnya.
Bagi warga Kampung Bayuwangi, tiga tangki air tersebut menjadi pertolongan di tengah kesulitan mendapatkan sumber air. Namun, bantuan itu sekaligus memperlihatkan persoalan yang lebih mendasar: selama sumber air belum kembali mencukupi, kebutuhan masyarakat terhadap pasokan air bersih tetap ada setiap hari.
Kemarau membuat warga harus beradaptasi dengan kondisi yang ada. Sumber air yang semakin terbatas memaksa mereka mengeluarkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk mendapatkan kebutuhan yang seharusnya mudah diakses.
Harapan warga pun sederhana, sumber air kembali mencukupi sehingga mereka tidak perlu lagi menempuh jarak hingga satu kilometer hanya untuk mendapatkan air.
Sebab bagi masyarakat yang terdampak kekeringan, air bersih bukan sekadar bantuan ketika musim kemarau datang. Air merupakan kebutuhan dasar yang harus tersedia setiap hari.
