KORAN MANDALA –Tradisi tidak selalu kehilangan makna ketika zaman berubah. Yang sering berubah justru cara masyarakat mengenal, menjalankan, dan memperkenalkan tradisi kepada generasi berikutnya.
Hal tersebut dapat dilihat dari Hajat Lembur di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Bagi masyarakat setempat, Hajat Lembur bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi ruang untuk merawat kebersamaan, mengungkapkan rasa syukur, sekaligus menjaga hubungan masyarakat dengan lingkungan dan warisan budaya yang telah berlangsung turun-temurun.
Salah satu rangkaian yang dikenal luas dalam Hajat Lembur adalah Perang Tomat. Tradisi ini memiliki cerita yang khas.
Berawal dari persoalan hasil pertanian ketika harga tomat jatuh dan sebagian hasil panen tidak terserap pasar, masyarakat mengolah pengalaman tersebut menjadi sebuah ekspresi budaya.
Perang Tomat kemudian berkembang menjadi bagian dari identitas Kampung Cikareumbi. Namun, perjalanan tradisi tidak selalu berjalan tanpa jeda. Pandemi COVID-19 membuat Perang Tomat berhenti diselenggarakan selama enam tahun. Sementara Hajat Lembur tetap menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat, Perang Tomat kehilangan ruang untuk hadir dan dirayakan bersama.
Enam tahun tentu bukan waktu yang singkat. Dalam rentang tersebut, perubahan sosial terus berlangsung. Generasi muda tumbuh dengan kebiasaan baru, termasuk dalam memperoleh informasi dan mengenal kebudayaan. Ruang digital semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut menghadirkan pertanyaan penting: bagaimana tradisi dapat tetap dekat dengan generasi yang cara berkomunikasinya sudah berubah?
Jawabannya bukan dengan mengubah tradisi menjadi sesuatu yang sepenuhnya baru. Justru yang diperlukan adalah menemukan cara baru untuk memperkenalkan dan mengomunikasikan nilai yang sudah dimiliki. Di sinilah digital branding dapat mengambil peran.
Digital branding dalam konteks budaya bukan sekadar membuat logo, membuka akun media sosial, atau memproduksi konten. Lebih jauh, digital branding menjadi cara untuk membangun identitas dan menyampaikan cerita budaya kepada masyarakat yang lebih luas.
Pendampingan kepada Lingkung Seni Mekar Budaya menjadi salah satu pengalaman dalam proses tersebut. Masyarakat didorong untuk mengenali kembali potensi budayanya, membangun identitas visual, mengembangkan media sosial dan website, serta memanfaatkan fotografi dan videografi sebagai bagian dari dokumentasi sekaligus komunikasi budaya.
Namun, teknologi bukan tujuan akhir. Ruang digital hanya menjadi salah satu jembatan agar masyarakat dapat memperkenalkan budayanya kepada publik. Tradisi tetap membutuhkan ruang nyata untuk dipraktikkan, dirayakan, dan diwariskan. Karena itu, keterlibatan masyarakat tetap menjadi kunci.
Perguruan tinggi dalam proses tersebut bukan pengganti komunitas. Perguruan tinggi hadir sebagai mitra yang membantu memperkuat kapasitas masyarakat, sementara komunitas tetap menjadi pemilik pengetahuan dan identitas budayanya.
Ketika masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah, komunitas kreatif, dan berbagai pihak dapat berjalan bersama, revitalisasi budaya memiliki peluang yang lebih besar untuk berkelanjutan.
Kembalinya Perang Tomat pada 2026 setelah enam tahun vakum menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan tersebut. Yang kembali bukan hanya sebuah atraksi budaya, tetapi juga ruang perjumpaan masyarakat, ruang bagi generasi muda untuk mengenal tradisinya, serta ruang bagi budaya lokal untuk kembali hadir di tengah masyarakat.
Pengalaman Cikareumbi menunjukkan bahwa tradisi tidak harus memilih antara mempertahankan nilai lama atau mengikuti perkembangan zaman. Keduanya dapat berjalan bersama.
Hajat Lembur tetap berakar pada nilai dan kehidupan masyarakat, sementara teknologi memberikan ruang baru untuk memperkenalkan, mendokumentasikan, dan memperluas jangkauan cerita budaya.
Pada akhirnya, melestarikan tradisi bukan berarti membekukannya dalam bentuk masa lalu. Melestarikan tradisi berarti memberikan ruang agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup, dikenal, dan diwariskan ketika zaman terus berubah.
Hajat Lembur mengajarkan bahwa tradisi dapat belajar beradaptasi. Dan mungkin, kemampuan untuk beradaptasi itulah yang membuat sebuah tradisi tetap memiliki masa depan.
