KORAN MANDALA – Musim kemarau belum beranjak dari Kabupaten Purwakarta. Di tengah kondisi cuaca yang kering, ancaman kebakaran pun semakin mudah muncul, baik di kawasan permukiman maupun lahan terbuka.
Sejak memasuki Juli hingga 27 Agustus 2026, tercatat sudah 92 kejadian kebakaran terjadi di wilayah Purwakarta. Kebakaran tersebut meliputi sejumlah objek, mulai dari rumah dan bangunan hingga kebun.
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein mengatakan, seluruh kejadian kebakaran tersebut sejauh ini masih dapat dikendalikan. Namun, kecepatan penanganan di setiap lokasi berbeda-beda, bergantung pada sejumlah kondisi di lapangan.
“Dari bulan Juli saja sampai dengan tanggal 27 Agustus ini, kebakaran yang terjadi sudah 92 kejadian, baik gedung, rumah ataupun kebun. Alhamdulillah semuanya terkendali,” kata Om Zein.
Menurutnya, penanganan kebakaran sangat dipengaruhi oleh kecepatan laporan masyarakat, jarak lokasi kejadian hingga besarnya api. Karena itu, semakin cepat informasi diterima, semakin besar pula peluang api dapat segera dikendalikan sebelum meluas.
Di balik tingginya angka kejadian tersebut, ada persoalan lain yang menjadi perhatian, yakni kebiasaan masyarakat yang sebenarnya dapat memicu munculnya api. Om Zein menyebut sebagian besar kebakaran terjadi akibat kelalaian manusia dalam menggunakan atau membuang sesuatu yang berpotensi menjadi sumber api.
Salah satunya berasal dari puntung rokok yang dibuang sembarangan. Dalam kondisi musim kemarau, material di sekitar yang mengering membuat bara kecil dari rokok dapat dengan mudah berubah menjadi sumber kebakaran.
“Penyebab dari kebakaran ini rata-rata dari kelalaian kita. Yang pertama itu kita buang puntung rokok sembarangan, rokok masih menyala kita buang ke mana saja. Di musim kemarau ini semuanya bisa menjadi pemicu kebakaran,” ujarnya.
Selain puntung rokok, aktivitas membakar sampah juga dinilai perlu mendapat perhatian. Kebiasaan membakar sampah, plastik maupun daun tanpa pengawasan dapat berbahaya, terutama ketika api ditinggalkan begitu saja.
Tiupan angin dapat membawa bara atau api dari lokasi pembakaran ke material yang mudah terbakar di sekitarnya. Kondisi tersebut membuat api yang awalnya kecil berpotensi merembet dan sulit dikendalikan.
Tak hanya faktor manusia, potensi kebakaran juga dapat muncul akibat gesekan alami yang menghasilkan percikan api. Karena itu, kondisi lingkungan yang kering selama musim kemarau membuat kewaspadaan menjadi semakin penting.
Om Zein mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh sumber api sekecil apa pun. Ia meminta warga memastikan tidak ada puntung rokok yang masih menyala ketika dibuang serta tidak melakukan pembakaran tanpa pengawasan.
“Jangan lagi buang puntung sembarangan, apalagi masih dalam posisi menyala. Jangan lagi bakar-bakaran, bakar sampah atau bakar apa pun tanpa diawasi dan ditinggalkan begitu saja,” katanya.
Angka 92 kejadian kebakaran selama hampir dua bulan musim kemarau itu menjadi pengingat bahwa pencegahan tidak hanya bergantung pada petugas pemadam kebakaran. Kewaspadaan masyarakat di lingkungan masing-masing menjadi bagian penting untuk mencegah munculnya titik api baru.
Di tengah musim yang masih kering, satu kelalaian kecil bisa berkembang menjadi persoalan besar. Karena itu, menjaga api tetap terkendali bukan hanya soal memadamkan ketika kebakaran terjadi, tetapi juga memastikan sumber-sumber pemicunya tidak muncul sejak awal.
