KORAN MANDALA – Pemerintah Provinsi Jawa Barat diminta lebih aktif membangun komunikasi dengan pemerintah pusat untuk mempercepat pencairan Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar Rp1,2 triliun yang hingga kini belum seluruhnya diterima.
Anggota DPRD Jawa Barat, Daddy Rohanady, mengatakan komunikasi dengan kementerian terkait perlu dilakukan secara intensif. Pemprov Jabar juga harus menyampaikan kondisi keuangan daerah serta kebutuhan pembangunan dengan dukungan data dan argumentasi yang kuat.
“Yang secara utuh beradu argumentasi terkait dengan kondisi yang ada, saya kira ya kawan-kawan di eksekutif,” ujar Daddy, dikutip Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, pemerintah daerah memiliki ruang komunikasi langsung dengan pemerintah pusat. Karena itu, upaya memperjuangkan pencairan DBH tidak cukup hanya dilakukan melalui jalur politik.
Daddy berharap jajaran eksekutif lebih sering datang ke Jakarta untuk membicarakan kondisi fiskal Jawa Barat secara langsung. Menurutnya, argumentasi yang disampaikan harus berdasarkan kondisi riil dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kita berharap kawan-kawan eksekutif juga secara intensif ke Jakarta bicara argumentasinya yang real. Jakarta juga manusia yang bisa terima jika argumentasinya kuat dan rasional,” tuturnya.
Ia menilai komunikasi yang terbuka dan intensif penting agar pemerintah pusat mendapatkan gambaran mengenai kondisi keuangan Jawa Barat. Dengan begitu, kebutuhan daerah dapat menjadi pertimbangan dalam proses pencairan DBH.
“Mudah-mudahan dengan sering merapat terbuka soal kondisi realnya, saya kira mudah-mudahan Jakarta juga pakai rasionalisasi yang benar,” ucapnya.
Sebelumnya, dari kekurangan DBH Jawa Barat sebesar Rp1,2 triliun, pencairan yang telah diterima baru sekitar Rp19 miliar. Kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk menopang kebutuhan fiskal daerah.
Selain mengejar DBH, Daddy juga mendorong Pemprov Jabar meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Optimalisasi penerimaan dapat dilakukan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi sumber pendapatan.
“Tetap meningkatkan pendapatan asli daerah. Apakah itu lewat ekstensifikasi, maupun lewat intensifikasi. Berbagai cara saya kira di situlah letaknya creative financing,” pungkasnya.
