ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA – Dosen sekaligus Dekan Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (Unisba), Asep Ahmad Shidiq, menilai keteladanan Nabi Muhammad SAW sangat relevan diterapkan generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi dan media sosial.
Menurut Asep, generasi muda saat ini hidup dalam ekosistem digital yang memungkinkan informasi diproduksi dan disebarkan dalam hitungan detik. Kondisi tersebut menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan etis.
“Generasi muda saat ini hidup dalam ekosistem digital yang memungkinkan informasi diproduksi dan disebarkan dalam hitungan detik. Kondisi tersebut menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan etis,” ujar Asep Saat dihubungi Koran Mandala Selasa (25/8/2026)
Karena itu, menurutnya, keteladanan Nabi Muhammad SAW perlu diterjemahkan ke dalam etika bermedia dan kecakapan digital yang berlandaskan nilai Islam.
“Karena itu, keteladanan Nabi Muhammad SAW perlu diterjemahkan ke dalam etika bermedia dan kecakapan digital yang berlandaskan nilai Islam,” katanya.
Asep menjelaskan, empat karakter utama Rasulullah SAW, yakni sidiq, amanah, tabligh, dan fathanah, sangat relevan untuk membangun perilaku generasi digital.
“Sidiq menuntut kejujuran dalam memproduksi dan menyampaikan informasi. Amanah mengingatkan bahwa setiap konten memiliki konsekuensi moral. Tabligh mendorong penggunaan teknologi untuk menyebarkan pengetahuan dan kebaikan, sedangkan fathanah menuntut kecerdasan, daya kritis, dan kemampuan memilih dan memilah informasi,” tuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya prinsip tabayyun dalam menghadapi derasnya arus informasi di media sosial. Prinsip tersebut, kata dia, mengajarkan agar masyarakat tidak terburu-buru menerima maupun menyebarkan informasi tanpa memastikan kebenarannya.
“Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat relevan dengan fenomena digital melalui perintah tabayyun: ‘Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya’ (QS. Al-Hujurat: 6),” ujarnya.
“Prinsip ini mengajarkan bahwa kecepatan menerima dan menyebarkan informasi tidak boleh mengalahkan kewajiban memastikan kebenarannya,” lanjut Asep.
Selain soal kebenaran informasi, ia mengingatkan generasi muda agar menjaga etika dalam berkomunikasi di ruang digital. Menurutnya, pesan Rasulullah SAW tentang menjaga lisan dan tangan juga relevan dengan perilaku pengguna media sosial.
“Demikian pula, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seorang Muslim adalah manusia yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam konteks kontemporer, pesan tersebut dapat diperluas pada komunikasi digital: jangan sampai tangan yang mengetik menjadi sumber luka bagi orang lain,” katanya.
Asep menegaskan, generasi muda tidak cukup hanya memiliki kemampuan menggunakan teknologi. Mereka juga perlu memiliki karakter dan etika dalam memanfaatkan ruang digital.
“Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menjadi digital native, tetapi perlu dibentuk menjadi digital citizen yang berakhlak,” tegasnya.
Ia menyebutkan sejumlah prinsip sederhana yang dapat diterapkan generasi muda dalam menggunakan media sosial, mulai dari berpikir sebelum mengunggah hingga mempertimbangkan dampak dari setiap konten yang dibagikan.
“Prinsipnya sederhana berpikir sebelum mengunggah, memeriksa sebelum menyebarkan, menghormati sebelum menghakimi, dan mempertimbangkan kemaslahatan sebelum mengejar popularitas,” ungkapnya.
Menurut Asep, perkembangan teknologi pada dasarnya merupakan instrumen. Dampak positif maupun negatif teknologi sangat bergantung pada manusia yang menggunakannya.
“Teknologi pada akhirnya hanyalah instrumen. Yang menentukan apakah teknologi membawa maslahat atau mudarat adalah manusia yang menggunakannya. Karena itu, semakin maju teknologi, semakin penting penguatan karakter dan etika penggunanya,” pungkasnya
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






