KORANMANDALA.COM –Musim kemarau 2026 belum memasuki puncaknya, tetapi kebakaran lahan di Kota Bandung sudah menunjukkan tanda-tanda mengkhawatirkan.
Sepanjang Juli 2026, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung mencatat 59 kejadian kebakaran, dengan lebih dari separuhnya terjadi pada alang-alang dan lahan kosong yang tidak terurus.
Angka tersebut menjadi perhatian karena dalam pola lima tahun terakhir, kebakaran lahan di Kota Bandung justru cenderung meningkat pada Agustus hingga Oktober. Artinya, lonjakan kejadian sudah muncul lebih awal tahun ini.
Kemarau Mulai Mengintai, Polrestabes Bandung Siagakan Pasukan dan Peralatan Hadapi Karhutla
Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Dunia Usaha (PMDU) Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung, Indra Nugraha, mengatakan kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa kewaspadaan menghadapi musim kemarau harus ditingkatkan.
“Biasanya dalam lima tahun terakhir, kebakaran lahan itu biasanya di bulan Agustus sampai bulan Oktober. Cuma di tahun 2026 ini, di bulan Juli saja kita sudah mencapai 59 kali kejadian kebakaran,” ujar Indra usai mengikuti apel gelar pasukan dan peralatan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Polrestabes Bandung, Senin (10/8/2026).
Dari puluhan kejadian tersebut, lebih dari 50 persen berkaitan dengan kebakaran alang-alang dan lahan kosong yang tidak terurus.
Kondisi tersebut membuat potensi kebakaran semakin sulit dipandang sebelah mata. Terlebih, lokasi kejadian tidak hanya berada di satu kawasan, melainkan tersebar di berbagai wilayah Kota Bandung.
“Kalau berdasarkan data hampir di seluruh wilayah Kota Bandung menyebar. Ada lahan-lahan yang menjadi tempat titik-titik kebakaran terjadi,” katanya.
Lahan Kosong Jadi Titik Rawan
Menurut Indra, alang-alang dan lahan kosong menjadi salah satu titik yang perlu mendapat perhatian lebih selama musim kemarau. Kondisi vegetasi yang mengering dapat membuat api lebih mudah muncul dan menjalar ketika terjadi pemicu kebakaran.
Karena itu, kesiapsiagaan tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Upaya pencegahan dan deteksi dini harus diperkuat sejak potensi kebakaran mulai meningkat.
“Kita sangat siap menghadapi musim kemarau saat ini. Kita ketahui sendiri bahwa memang berdasarkan data dari Dinas Pemadam Kebakaran, kebakaran alang-alang ini menjadi tren yang sangat tinggi pada saat musim kemarau,” ujar Indra.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung telah menyiapkan personel serta sarana pendukung untuk menghadapi kemungkinan peningkatan kejadian selama musim kemarau.
Namun, Indra menegaskan penanganan kebakaran tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan Damkar. Kolaborasi dengan kepolisian, BPBD dan berbagai unsur lainnya diperlukan agar respons terhadap kebakaran bisa dilakukan lebih cepat.
Kesiapan lintas instansi tersebut salah satunya ditunjukkan melalui apel gelar pasukan dan peralatan penanganan kebakaran hutan dan lahan yang melibatkan sejumlah unsur terkait.
“Alhamdulillah, dengan adanya apel ini berarti kesiapsiagaan bukan hanya unsur Damkar, unsur lainnya juga siap siaga dalam menghadapi musim kemarau di Kota Bandung ini,” katanya.
Damkar Jalankan Siaga Kemarau
Untuk memperkuat langkah antisipasi, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung juga telah menjalankan Program Siaga Kemarau.
Program tersebut menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kesiapan personel sekaligus memperkuat upaya pencegahan terhadap potensi kebakaran yang meningkat selama musim kering.
Indra berharap sinergi antarinstansi dan kesiapsiagaan masyarakat dapat menekan jumlah kejadian kebakaran lahan di Kota Bandung.
Masyarakat juga diminta lebih memperhatikan kondisi lingkungan, terutama lahan kosong yang dipenuhi alang-alang atau vegetasi kering dan berpotensi menjadi sumber api.
“Tentu Damkar menyambut baik dengan adanya apel gabungan ini. Kesiapsiagaan tentu bukan hanya Damkar semata. Kepolisian, juga BPBD, dan unsur-unsur lainnya juga kita butuhkan dalam penanganan kebakaran tersebut jika memang terjadi,” tuturnya.
Dengan 59 kejadian hanya dalam satu bulan dan sebagian besar terjadi di lahan terbuka, ancaman kebakaran kini menjadi pekerjaan rumah bersama.
Apalagi kalender kemarau masih berjalan. Jika tren peningkatan terjadi lebih cepat dari pola tahun-tahun sebelumnya, kewaspadaan tidak bisa menunggu hingga Agustus, September atau Oktober. (Supyan Al Ansory/MG)
