KORANMANDALA.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti masih tingginya angka pengangguran di Jawa Barat meski pembangunan infrastruktur dinilai semakin baik dibandingkan sebelumnya.
Menurut Dedi, pembangunan infrastruktur seharusnya tidak hanya menghasilkan fasilitas fisik, tetapi juga memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat.
“Banyak yang menyampaikan bahwa di Jabar pembangunan infrastrukturnya sudah lebih baik dibanding dulu. Tetapi angka penganggurannya masih tinggi,” ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Selasa (11/8/2026).
Ia menjelaskan, pembangunan infrastruktur dapat menggerakkan berbagai sektor ekonomi. Ketika proyek berjalan, kebutuhan terhadap tenaga konstruksi, jasa transportasi, pemasok material hingga tenaga profesional turut meningkat.
“Ini juga melahirkan perputaran ekonomi. Ada sopir, ada kuli, ada tukang, ada arsitek, ada perencana, dan sejenisnya. Kemudian yang kedua, dengan dibangunnya infrastruktur maka investasi akan mudah,” ucapnya.
Dedi menilai persoalan pengangguran tidak cukup diselesaikan dengan memperbanyak pembangunan fisik. Infrastruktur yang telah tersedia harus mampu mendorong masuknya investasi sehingga menciptakan lapangan pekerjaan baru.
“Karena investasi itu akan datang manakala jalan tolnya baik, listriknya terkoneksi, jaringan telekomunikasinya terkoneksi, jaringan pipa gasnya terkoneksi, jaringan air bersihnya terkoneksi. Nah ini akan menumbuhkan investasi. Dengan adanya investasi maka orang akan bekerja,” katanya.
Namun, masuknya investasi juga harus diikuti dengan kesiapan tenaga kerja lokal. Dedi mengingatkan, masyarakat perlu memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri agar peluang kerja tidak justru diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah.
Menurutnya, pemerintah perlu membangun sistem pendidikan yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan dunia industri. Sekolah diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja.
“Agar industri itu memiliki keberpihakan pada lingkungan karena lingkungannya, para pekerjanya berasal dari lingkungan. Dan caranya bersekolah dengan baik, bekerja dengan sungguh-sungguh, pemerintah menyiapkan sekolah-sekolah yang beradaptasi dengan kebutuhan industri,” tuturnya
Di sisi lain, Dedi turut menyoroti tantangan yang dihadapi industri padat karya. Menurutnya, kenaikan biaya tenaga kerja dapat memengaruhi keputusan perusahaan untuk mempertahankan kegiatan produksinya di suatu daerah.
“Sehingga kenaikan kesejahteraan melalui peningkatan upah seringkali berdampak pada apa? Beberapa industri padat karya pindah. Ada yang pindah ke Jawa Tengah, ada yang pindah ke luar negeri, ke Vietnam. Ini juga problem, sehingga kita harus membangun keseimbangan,” ungkapnya.
Dedi menegaskan, peningkatan kesejahteraan pekerja tidak hanya dapat dilihat dari besaran upah. Pemerintah juga perlu menekan biaya hidup masyarakat melalui penyediaan layanan dasar yang terjangkau.
Akses terhadap pendidikan, listrik, air bersih, dan transportasi publik dinilai penting agar kenaikan pendapatan masyarakat tidak habis untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Yang menjadi problem adalah meningkatnya pendapatan tidak berbanding lurus dengan meningkatnya pengeluaran. Ini yang menjadi problem hari ini. Ini juga PR kita bersama yang harus diselesaikan secara bijak dan berpikirnya,” Pungkasnya

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menghadiri acara West Java Investment Summit di Bandung, Rabu (11/11/2025). (Sarah/Koranmandala)
Dapatkan berita informasi seputar kota Bandung dan berita terbaru menarik lainnya di Google News. Ikuti Media Sosial KORAN MANDALA untuk update berita pilihan dan breaking news setiap hari.