KORANMANDALA.COM –Ketika matahari mulai tenggelam, suasana di jalur menuju Citalang, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, berubah. Jalan yang setiap hari menjadi akses warga pulang-pergi mulai lengang, sementara sejumlah titik minim aktivitas dan penerangan.
Kondisi tersebut kembali menjadi sorotan setelah seorang pengendara mengaku menjadi korban dugaan aksi begal bersenjata celurit.
Seghara, warga Purwakarta, mengaku mengalami kejadian tersebut saat melintas dari arah Pasawahan menuju Citalang sekitar pukul 18.00 WIB. Saat itu, hari mulai gelap dan kondisi jalan disebut mulai sepi.
Dugaan Obat Keras Ilegal Resahkan Warga Purwakarta, KDM Bertindak
Setibanya di sekitar belokan dekat irigasi, perjalanan Seghara mendadak berubah menjadi mencekam. Ia mengaku dihadang dua orang yang berboncengan menggunakan satu sepeda motor.
Kedua orang tersebut diduga berusaha menghentikan laju kendaraan dan mengambil sepeda motor yang dikendarainya.
Seghara memilih melawan. Namun, perlawanan itu justru membuat situasi semakin berbahaya. Salah seorang yang diduga sebagai pelaku disebut mengeluarkan senjata tajam jenis celurit.
“Tadinya sempat mau ambil motor, cuma saya lawan. Pas itu dia keluarin celurit,” ujar Seghara.
Dalam kondisi terancam, Seghara kemudian berteriak meminta pertolongan.
Teriakannya menjadi penyelamat. Warga sekitar yang mendengar langsung berdatangan ke lokasi. Kehadiran warga membuat dua orang tersebut mengurungkan niat membawa sepeda motor Seghara dan memilih melarikan diri.
Motor korban akhirnya tetap selamat.
Namun, Seghara tetap mengalami kerugian. Sebelum kabur, dua orang yang diduga sebagai pelaku sempat mengambil uang tunai miliknya sekitar Rp500 ribu.
“Saya teriak minta tolong, alhamdulillah ada warga yang datang membantu. Motor aman, cuma uang sekitar Rp500 ribu yang diambil,” katanya.
Telepon genggam dan dompet milik Seghara tidak ikut dibawa. Meski kerugian materi relatif terbatas, pengalaman tersebut meninggalkan ketakutan tersendiri karena korban sempat berhadapan dengan ancaman senjata tajam.
Warga Datang, Korban Selamat
Keluarga Seghara menyampaikan apresiasi kepada warga yang bergerak cepat setelah mendengar teriakan korban.
Bagi keluarga, kehilangan uang masih bisa diterima dibandingkan keselamatan Seghara yang sempat berada dalam ancaman.
“Kami sangat berterima kasih kepada warga yang langsung membantu. Alhamdulillah anak saya selamat dan motornya juga masih ada,” ujar pihak keluarga.
Peristiwa tersebut sekaligus memunculkan kekhawatiran baru di tengah warga yang kerap melintasi jalur menuju Citalang pada sore hingga malam hari.
Sejumlah titik di jalur tersebut dinilai relatif sepi ketika hari mulai gelap. Kondisi itu membuat warga berharap pengamanan tidak hanya dilakukan setelah terjadi tindak kejahatan.
Penerangan jalan dan patroli rutin dinilai penting untuk mencegah ruang bagi pelaku kejahatan, sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat yang masih beraktivitas pada malam hari.
Korban Lapor Polisi, TKP Langsung Dicek
Orangtua korban, Qibek, mendampingi Seghara mendatangi Satreskrim Polres Purwakarta untuk membuat laporan resmi terkait dugaan aksi tersebut.
Setelah menerima laporan, personel Satreskrim Polres Purwakarta mendatangi lokasi kejadian. Petugas melakukan pengecekan dan olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk mencari petunjuk yang dapat membantu mengungkap peristiwa tersebut.
Polisi juga meminta keterangan awal dari korban dan warga sekitar untuk mengetahui rangkaian kejadian, termasuk bagaimana korban dihadang hingga dua orang yang diduga sebagai pelaku akhirnya melarikan diri.
Hingga kini, identitas kedua terduga pelaku belum diketahui. Polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap keberadaan mereka sekaligus memastikan rangkaian kejadian yang dilaporkan korban.
Jangan Tunggu Ada Korban Berikutnya
Kejadian yang dialami Seghara menjadi peringatan bahwa titik jalan yang sepi ketika petang berpotensi menjadi ruang rawan kejahatan.
Warga berharap pengamanan di jalur menuju Citalang tidak baru diperketat setelah muncul korban. Patroli rutin, penerangan yang memadai, serta pemetaan titik rawan dinilai perlu dilakukan sebagai langkah pencegahan.
Sebab bagi warga yang setiap hari menggunakan jalur tersebut, rasa aman seharusnya tidak bergantung pada keberuntungan.
Seghara selamat karena teriakannya didengar warga.
