KORANMANDALA.COM –Festival Layang-layang Internasional yang digelar di Agrowisata Tepas Papandayan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, menuai antusiasme masyarakat sekaligus kritik dari sejumlah pengunjung.
Keluhan mulai bermunculan terkait pelayanan, fasilitas, hingga harga tiket masuk yang dinilai belum sebanding dengan kenyamanan yang diterima.
Festival yang berlangsung pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026 itu menghadirkan peserta dari 13 negara dan menjadi salah satu ajang internasional pertama yang digelar di kawasan dataran tinggi Garut.
Berbeda dari festival layang-layang pada umumnya yang berlangsung di kawasan pantai, penyelenggara memilih Agrowisata Tepas Papandayan karena memiliki hamparan lapangan luas dengan hembusan angin yang dinilai ideal untuk menerbangkan layang-layang.
Pelaksanaan festival melibatkan berbagai unsur, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), unsur pemerintah, hingga komunitas layang-layang. Namun, di tengah kemeriahan acara, sejumlah pengunjung mengaku kecewa dengan pelayanan yang mereka terima.
Salah seorang pengunjung asal Jakarta yang enggan disebutkan namanya mengaku datang bersama 10 rekannya setelah membeli tiket sejak sepekan sebelumnya. Sesampainya di lokasi pada Sabtu (1/8/2026) pagi, ia justru mendapat informasi bahwa atraksi layang-layang baru dimulai beberapa jam kemudian.
“Saya ini lansia. Datang dari Jakarta bersama 10 orang. Tiket sudah kami beli sejak minggu lalu, bahkan belinya juga susah. Kami tiba sekitar pukul 09.30 WIB, tapi petugas mengatakan pertunjukan baru mulai pukul 13.00 WIB. Kami diminta keluar dulu lalu kembali lagi nanti. Mobil sudah telanjur parkir, jadi kami harus bolak-balik,” ujarnya.
Menurutnya, informasi mengenai jadwal pertunjukan tidak tersampaikan dengan jelas kepada pengunjung sehingga menimbulkan kebingungan.
Selain itu, ia juga menyoroti minimnya fasilitas yang tersedia di lokasi acara. Dengan harga tiket Rp45.000 per orang, ia berharap terdapat area duduk atau tribun untuk menyaksikan atraksi layang-layang.
“Ternyata katanya jam 10.00 sudah mulai, jadi informasinya juga berubah. Saya kecewa. Tiketnya cukup mahal, saya pikir karena ini festival internasional pasti ada tribun atau tempat duduk yang nyaman. Ternyata tidak ada. Jujur saya kapok kalau kondisinya seperti ini,” katanya.
Tak hanya pelayanan, harga tiket juga menjadi perbincangan di media sosial. Sejumlah warganet mempertanyakan tarif masuk festival yang dinilai cukup tinggi. Bahkan, salah seorang pengguna media sosial mengklaim harga tiket sempat diturunkan karena jumlah pengunjung tidak sesuai harapan.
Meski demikian, berdasarkan data penyelenggara, sejak pembukaan pada 29 Juli hingga 1 Agustus 2026, penjualan tiket telah mencapai sekitar 4.300 lembar.
Festival Layang-layang Internasional Garut sendiri menjadi momentum penting bagi Kabupaten Garut untuk memperkenalkan potensi wisata kepada dunia internasional.
Karena baru pertama kali digelar, sejumlah evaluasi diharapkan dapat menjadi perhatian penyelenggara agar pelaksanaan pada tahun-tahun berikutnya mampu memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi pengunjung tanpa mengurangi daya tarik acara berskala internasional tersebut.
