KORANMANDALA.COM – Aktivis lingkungan sekaligus anggota Tim Advokasi Persampahan Wahi Jabar, M. Jefry Rohman, menyoroti sejumlah persoalan mendasar di balik pelaksanaan groundbreaking Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka di Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Rabu (29/7/2026).
Menurut Jefry, proyek yang dipromosikan sebagai solusi modern atas krisis sampah di Bandung Raya itu masih menyisakan berbagai persoalan yang belum terjawab.
“Pada Rabu (29/7/2026) pemerintah menggelar groundbreaking pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung. Proyek ini dipromosikan sebagai solusi modern atas krisis sampah di kawasan Bandung Raya. Namun, di balik seremoni tersebut, masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang belum terjawab,” Ujar Jefry Rohman Saat dihubungi Koran Mandala Rabu (29/7/2026)
Ia menjelaskan, PSEL Legok Nangka merupakan proyek dengan investasi yang sangat besar dan akan mengolah ribuan ton sampah setiap hari. Menurutnya, model pengelolaan tersebut lebih berorientasi pada pengolahan sampah di hilir melalui teknologi pembakaran, sementara persoalan utama pengelolaan sampah di Jawa Barat justru berada pada lemahnya upaya pengurangan sampah dari sumber.
”PSEL Legok Nangka merupakan proyek dengan investasi yang sangat besar dan akan mengolah ribuan ton sampah setiap hari. Model pengelolaan ini berorientasi pada pengolahan sampah di hilir melalui teknologi pembakaran, sementara persoalan utama pengelolaan sampah di Jawa Barat justru berada pada lemahnya upaya pengurangan sampah dari sumber, pemilahan, pengomposan, serta pembangunan sistem ekonomi sirkular,” katanya.
Jefry juga menilai karakteristik sampah di Bandung Raya menjadi tantangan tersendiri bagi operasional PSEL. Ia menyebut sebagian besar timbulan sampah masih didominasi sampah organik dengan kadar air tinggi sehingga memiliki nilai kalor yang rendah.
”Sebagian besar timbulan sampah di Bandung Raya masih didominasi oleh sampah organik dengan kadar air yang tinggi. Karakteristik tersebut menjadikan sampah memiliki nilai kalor yang rendah sehingga membutuhkan proses tambahan sebelum dapat dibakar secara optimal. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kebutuhan energi operasional dan biaya pengelolaan,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan adanya sejumlah risiko lingkungan yang perlu dijawab secara terbuka oleh pemerintah.
”Pembangunan PSEL juga menimbulkan sejumlah risiko lingkungan yang perlu dijawab secara terbuka, di antaranya potensi emisi pencemar udara seperti partikulat halus (PM2.5), dioksin, furan, logam berat, serta gas rumah kaca; produksi limbah Fly Ash dan Bottom Ash yang memerlukan pengelolaan khusus apabila memenuhi karakteristik limbah berbahaya; kebutuhan pasokan sampah dalam jumlah besar selama masa konsesi yang berpotensi menghambat kebijakan pengurangan sampah di sumber; serta tingginya beban fiskal pemerintah akibat biaya investasi, biaya operasional, tipping fee, maupun berbagai bentuk dukungan pembiayaan lainnya,” kata Jefry.
Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan investasi pada sistem pengelolaan sampah yang berkeadilan ekologis.
“Pemerintah seharusnya memprioritaskan investasi pada sistem pengelolaan sampah yang lebih berkeadilan ekologis, antara lain pengurangan sampah sejak sumber, pembatasan plastik sekali pakai, perluasan fasilitas kompos, penguatan bank sampah dan pelaku daur ulang, peningkatan tanggung jawab produsen (Extended Producer Responsibility/EPR), serta pengembangan ekonomi sirkular yang mampu menciptakan lapangan kerja lokal,” tuturnya.
Jefry menegaskan bahwa penyelesaian krisis sampah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fasilitas berteknologi tinggi.
”Krisis sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan membangun fasilitas berteknologi tinggi. Tanpa perubahan sistem produksi dan konsumsi, pembangunan PSEL hanya akan memindahkan persoalan dari tempat pembuangan menuju cerobong emisi,” pungkasnya.

TPPAS Legok Nangka (Istimewa)
Dapatkan berita informasi seputar kota Bandung dan berita terbaru menarik lainnya di Google News. Ikuti Media Sosial KORAN MANDALA untuk update berita pilihan dan breaking news setiap hari.