KORANMANDALA.COM – Kemarau panjang yang melanda Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta, selama hampir tiga bulan memicu krisis air bersih yang kian meluas.
Sejumlah kampung kini kesulitan memperoleh air untuk memenuhi kebutuhan dasar, mulai dari mandi, mencuci, hingga memasak.
Kondisi paling memprihatinkan terlihat di Desa Batutumpang. Setiap sore, warga berdatangan ke kubangan bekas galian tanah dengan membawa ember, jeriken, dan pakaian kotor.
Sacha Inchi, “Kacang Omega” yang Mulai Dibudidayakan Petani di Purwakarta
Genangan air berwarna kecokelatan yang bercampur lumpur, lumut, bahkan sampah itu terpaksa dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci setelah sumur-sumur warga mengering akibat kemarau.
Pemandangan tersebut menjadi potret nyata krisis air yang dialami masyarakat. Anak-anak mandi di kubangan, sementara para ibu mencuci pakaian di tepinya. Meski kualitas air jauh dari standar layak pakai, warga mengaku tidak memiliki alternatif lain.
Krisis air bersih tidak hanya melanda Desa Batutumpang. Warga Kampung Warung Jeruk, Kampung Batu Lawang, dan Kampung Cicariu yang masih berada di Kecamatan Tegalwaru juga menghadapi persoalan serupa.
Di Kampung Batu Lawang dan Kampung Cicariu, sejumlah mata air yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan warga dilaporkan mengering. Akibatnya, masyarakat harus berjuang mencari air demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sementara di Kampung Warung Jeruk, air bersih masih mengalir, tetapi hanya saat dini hari dengan debit yang sangat kecil. Kondisi itu memaksa warga bangun sebelum fajar untuk menampung air sebelum alirannya kembali terhenti.
“Kalau air bersih keluarnya cuma waktu subuh. Jadi kami harus cepat-cepat menampung. Kalau sudah siang sampai sore, airnya sudah tidak ada lagi. Mau bagaimana, tetap dipakai semampunya karena memang tidak ada sumber air lain,” ujar Noliva, warga Kampung Warung Jeruk.
Keterbatasan pasokan air membuat sebagian warga harus menghemat penggunaan air secara ekstrem. Sebagian lainnya terpaksa mencari sumber air ke wilayah lain atau bergantung pada bantuan air bersih. Namun, distribusi bantuan dinilai belum mampu mengimbangi besarnya kebutuhan masyarakat yang terdampak.
Ironisnya, krisis air bersih ini terjadi ketika Kabupaten Purwakarta tengah memperingati Hari Jadi ke-57 dan Kota Purwakarta merayakan Hari Jadi ke-195. Di tengah berbagai rangkaian perayaan, masih ada warga yang harus mempertaruhkan kesehatan dengan menggunakan air kubangan berlumpur untuk kebutuhan sehari-hari karena akses terhadap air bersih belum terpenuhi.
Kondisi tersebut kembali menyoroti pentingnya langkah cepat pemerintah dalam memperluas distribusi air bersih serta menyiapkan solusi jangka panjang untuk wilayah-wilayah yang setiap musim kemarau selalu dilanda krisis air. Tanpa penanganan yang berkelanjutan, persoalan serupa berpotensi terus berulang dan membebani masyarakat.
Warga berharap distribusi bantuan air bersih dapat ditingkatkan selama musim kemarau berlangsung. Selain itu, mereka juga mendesak adanya solusi permanen agar akses terhadap air bersih tidak lagi bergantung pada musim hujan semata.
Versi ini dibuat lebih tajam dengan menonjolkan aspek kepentingan publik, dampak krisis terhadap hak dasar masyarakat, serta urgensi respons pemerintah, namun tetap menjaga bahasa yang faktual dan tidak menghakimi.
