KORANMANDALA.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi kritik terhadap kebijakan sayembara penangkapan pelaku kejahatan jalanan, mulai dari begal, pencuri, copet, jambret hingga perampok.
Kebijakan tersebut sebelumnya mendapat sorotan dari sejumlah pihak, salah satunya Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra yang menilai sayembara itu berpotensi mendorong masyarakat melakukan aksi main hakim sendiri.
Menanggapi kritik tersebut, Dedi menegaskan bahwa tujuan utama sayembara bukan untuk membenarkan tindakan kekerasan terhadap pelaku kejahatan, melainkan mendorong masyarakat membantu mengamankan pelaku agar dapat diproses secara hukum.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang memberikan otokritik terhadap sayembara tangkap begal, tangkap maling, tangkap copet, tangkap jambret, tangkap rampok,” ujar Dedi melalui akun media sosialnya, Minggu (26/7/2026).
Menurut Dedi, selama ini sejumlah pelaku kejahatan yang tertangkap warga justru berakhir menjadi korban amuk massa hingga meninggal dunia sebelum menjalani proses hukum.
Ia menilai pemberian penghargaan kepada warga yang membantu menangkap pelaku dapat menjadi cara untuk mengubah respons masyarakat ketika menghadapi tindak kriminal.
”Sayembara ini justru untuk mencegah terjadinya upaya main hakim sendiri atau main hakim ramai-ramai, yang berujung pada kematian,” katanya.
Dedi mengatakan, masyarakat nantinya akan memiliki dorongan untuk menyerahkan pelaku kepada aparat karena ada bentuk apresiasi atas peran mereka dalam membantu penegakan hukum.
”Ketika ditangkap maling, begal, dan sejenisnya, orang cenderung tidak akan menghabisi sampai meninggal karena dia merasa akan mendapat imbalan atau hadiah dari apa yang dia lakukan,” ujarnya.
Ia juga memastikan pemberian hadiah tidak dilakukan sembarangan. Menurutnya, penghargaan hanya diberikan apabila pelaku benar-benar terbukti melakukan tindak pidana, ditetapkan sebagai tersangka, dan menjalani proses penahanan.
“Uang diberikan setelah pelaku pembegalan atau pelaku maling yang ditangkap memang betul maling, kemudian menjadi tersangka dan ditahan,” jelas Dedi.
Terkait anggapan bahwa pemerintah seharusnya lebih fokus membuka lapangan pekerjaan untuk mengatasi kriminalitas, Dedi menyebut persoalan kejahatan tidak hanya disebabkan faktor ekonomi.
“Kita setiap hari berusaha menyelesaikan pengangguran dan membangun investasi. Tetapi pencurian, kejahatan, maling, dan sejenisnya tidak melulu karena menganggur,” katanya.
Dedi menyebut faktor lingkungan sosial, kebiasaan, hingga jaringan kriminal juga dapat menjadi pemicu terjadinya kejahatan. Ia pun mengajak masyarakat tidak takut menghadapi pelaku kriminal, namun tetap menyerahkan penanganannya kepada aparat.
“Jangan begal yang menjadi berkuasa dan membuat rasa takut dalam pikiran kita. Justru kita harus membuat begal takut kepada kita,” tegasnya.
Meski menuai kritik, Dedi memastikan masukan dari berbagai pihak akan menjadi bahan evaluasi agar kebijakan tersebut tetap berjalan sesuai aturan hukum.
“Kami menerima kritik dengan sepenuh hati, untuk kebaikan masyarakat Jawa Barat,” Pungkasnya

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
Dapatkan berita informasi seputar kota Bandung dan berita terbaru menarik lainnya di Google News. Ikuti Media Sosial KORAN MANDALA untuk update berita pilihan dan breaking news setiap hari.