KORANMANDALA.COM – Aktivitas jual beli di Pasar Lembang, Kabupaten Bandung Barat, mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir.
Sejumlah pedagang mengeluhkan berkurangnya jumlah pembeli yang diduga dipengaruhi kenaikan harga sejumlah bahan pangan dan melemahnya daya beli masyarakat.
Pedagang telur di Pasar Lembang, Atep, mengatakan kondisi pasar kini tidak seramai biasanya. Menurutnya, masyarakat lebih selektif dalam berbelanja dan cenderung hanya membeli kebutuhan pokok dalam jumlah terbatas.
DPRD Kota Bandung Dorong Warga Lulusan Pendidikan Kesetaraan Terus Tingkatkan Kompetensi
“Kalau harga normal pasar lebih ramai. Sekarang lagi sepi. Pengunjungnya sudah hampir setahun berkurang,” ujar Atep.
Ia menuturkan, harga telur masih mengalami fluktuasi mengikuti pasokan dari distributor. Namun, dampak yang paling dirasakan para pedagang bukan hanya kenaikan harga, melainkan menurunnya aktivitas transaksi di pasar.
Kondisi serupa juga dialami pedagang komoditas lainnya, terutama penjual sayuran. Menurut Atep, berkurangnya jumlah pembeli membuat sebagian dagangan tidak habis terjual sehingga menimbulkan kerugian.
“Kalau sayuran nggak laku ya dibuang. Itu memang risiko pedagang,” katanya.
Hal senada disampaikan pedagang ayam, Ujang. Ia mengaku kenaikan harga dari pemasok membuat pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual kepada konsumen agar tetap dapat menutup biaya operasional.
Meski demikian, ia berharap kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Menurutnya, stabilitas harga bahan pangan menjadi faktor penting untuk mengembalikan daya beli masyarakat dan meningkatkan kembali aktivitas perdagangan di pasar tradisional.
Para pedagang berharap pemerintah dapat menjaga kestabilan harga dan pasokan bahan pangan agar pasar tradisional kembali bergairah. Mereka menilai pulihnya daya beli masyarakat menjadi kunci untuk menggerakkan kembali roda perekonomian di Pasar Lembang sekaligus mengurangi kerugian yang dialami pedagang akibat sepinya pembeli.
