KORANMANDALA.COM –Proyek galian yang tengah berlangsung di Jalan Gatot Subroto (Gatsu), Kota Bandung, menyebabkan arus lalu lintas mengalami kemacetan, terutama pada jam pulang kerja.
Penyempitan badan jalan akibat area pekerjaan membuat kendaraan harus memperlambat laju sehingga antrean mengular di sepanjang ruas jalan.
Kondisi tersebut terlihat pada Kamis (23/7/2026), saat kendaraan roda dua maupun roda empat terpaksa bergantian melintasi lokasi proyek.
Reaktivasi Bandara Husein Agustus 2026, Pemkot Bandung Percepat Penataan Infrastruktur dan Kawasan
Selain mempersempit akses jalan, bekas galian yang belum rata membuat pengendara harus ekstra hati-hati agar tidak kehilangan kendali saat melintas.
Aparat kepolisian yang melakukan pengaturan lalu lintas di lokasi, Bapak Jumaro, mengatakan kemacetan tidak dapat dihindari karena sebagian badan jalan digunakan untuk pekerjaan galian.
Menurutnya, personel kepolisian disiagakan untuk mengurai kepadatan kendaraan dan menjaga arus lalu lintas tetap bergerak.
“Memang sekarang lalu lintas di Jalan Gatot Subroto jadi lebih padat karena ada proyek galian. Jalannya menyempit, jadi kendaraan harus bergantian lewat. Kami dari kepolisian melakukan pengaturan supaya antrean kendaraan tidak semakin panjang dan pengendara tetap bisa melintas dengan aman,” ujar Jumaro.
Sementara itu, salah seorang pengendara, Dimas (35), mengaku proyek tersebut cukup mengganggu aktivitasnya karena waktu tempuh perjalanan menjadi lebih lama dibanding biasanya.
“Saya hampir setiap hari lewat sini. Kalau nggak ada proyek galian, paling sekitar 30 menit sudah sampai tujuan. Sekarang jadi lebih lama karena macet akibat jalannya menyempit. Selain itu bekas galiannya juga bikin jalan nggak rata, jadi motor harus pelan-pelan. Kalau kurang hati-hati bisa membahayakan pengendara,” ujarnya.
Keberadaan proyek galian tersebut diharapkan dapat segera diselesaikan agar arus lalu lintas di Jalan Gatot Subroto kembali normal.
Selama pekerjaan masih berlangsung, pengendara diminta tetap mematuhi arahan petugas di lapangan dan mengurangi kecepatan saat melintasi area proyek demi keselamatan bersama. (Wistia Adi Nurahman/MG)
