KORANMANDALA.COM –Anggota DPRD Kabupaten Garut, H. Imat Rohimat, menilai Kabupaten Garut memiliki potensi besar untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pengelolaan sektor parkir dan pariwisata yang lebih profesional serta bebas dari kebocoran.
Menurutnya, dua sektor tersebut masih belum dikelola secara optimal sehingga kontribusinya terhadap PAD belum maksimal. Ia mencontohkan sejumlah daerah yang mampu meraih pendapatan besar dari sektor parkir karena didukung tata kelola yang baik.
“Kita melihat di Yogyakarta PAD dari sektor parkir sangat besar. Kalau Garut bagaimana? Pendapatan parkirnya masih jauh dari potensi yang ada. Begitu juga dengan sektor wisata yang harus dikelola lebih baik agar memberikan kontribusi maksimal terhadap PAD,” kata Imat, Selasa (21/7/2026).
Imat menilai, masih terdapat kebocoran dalam pengelolaan parkir. Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah untuk menegakkan Peraturan Daerah (Perda) agar seluruh potensi pendapatan dapat masuk ke kas daerah.
“Pengelolaan parkir masih bocor. Kita harus menegakkan Perda. Kalau aturan dijalankan dengan baik, saya yakin PAD akan meningkat. Sekarang pekerjaan rumah kita adalah bagaimana meningkatkan PAD tanpa ada kebocoran,” ujarnya.
Meski demikian, Imat mengingatkan bahwa peningkatan PAD tidak boleh dilakukan dengan membebani masyarakat melalui kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
“Kalau menaikkan PAD, jangan sampai menaikkan PBB masyarakat. Masih banyak sektor lain yang bisa dioptimalkan,” tegasnya.
Selain sektor parkir, Imat menyebut sektor pariwisata memiliki peluang besar untuk mendongkrak PAD Kabupaten Garut. Tingginya arus wisatawan setiap akhir pekan, menurutnya, menjadi indikator bahwa Garut merupakan destinasi yang diminati.
Ia mencontohkan kepadatan arus lalu lintas yang kerap terjadi di kawasan Tarogong hingga Leles pada akhir pekan sebagai bukti meningkatnya kunjungan wisatawan.
“Setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu jalur Tarogong sampai Leles sering macet. Itu menandakan banyak wisatawan datang ke Garut. Potensi ini harus bisa dikonversi menjadi PAD,” katanya.
Menurut Imat, tingginya tingkat hunian hotel juga menunjukkan besarnya minat wisatawan untuk berkunjung ke Garut.
“Hotel-hotel di Garut sering penuh. Bahkan kalau tidak memesan jauh hari, sulit mendapatkan kamar. Artinya Garut diminati wisatawan. Tinggal bagaimana pemerintah mengelolanya agar memberikan manfaat bagi daerah,” ujarnya.
Imat menegaskan, peningkatan PAD memerlukan pengawasan yang ketat dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait agar tidak terjadi kebocoran dalam pengelolaan pendapatan.
Selain itu, ia menilai pemerintah perlu memperkuat promosi atau branding Kabupaten Garut sebagai destinasi wisata unggulan agar wisatawan datang lebih banyak dan tinggal lebih lama.
“Pengawasan dan pembinaan sangat diperlukan agar pengelolaan PAD tertib dan tidak bocor. Garut memiliki potensi wisata yang luar biasa, tinggal bagaimana manajemennya diperbaiki dan masyarakat ikut menciptakan suasana yang nyaman bagi wisatawan,” katanya.
Ia menambahkan, semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula perputaran ekonomi yang terjadi di daerah.
“Pemerintah harus memperkuat branding Garut. Kalau banyak orang datang ke Garut, mereka akan menginap di hotel, makan di restoran, berbelanja, membayar parkir, dan semuanya akan menjadi sumber PAD. Dampaknya ekonomi masyarakat juga akan tumbuh,” tutur Imat.
Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat memperkuat tata kelola sektor parkir dan pariwisata sehingga potensi PAD Kabupaten Garut dapat dimaksimalkan tanpa membebani masyarakat dengan kenaikan pajak.
