ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Pedagang daging ayam di Pasar Ciawitali, Kabupaten Garut, mengeluhkan harga ayam yang mulai naik kembali seiring berakhirnya masa libur sekolah dan kembali berjalannya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Keluhan kenaikan harga tidak hanya dirasakan pedagang daging ayam, tetapi juga para pedagang lain di pasar yang mengaku turut terdampak.
Salah seorang pedagang daging ayam, YN (55), mengatakan sejak adanya Program MBG, omzet penjualannya menurun hingga 25 persen.
ADVERTISEMENT
“Kami para pedagang kaki lima yang menjual daging ayam secara eceran, jujur saja setelah ada MBG omzet penjualan menurun. Itu semua karena harga jual tinggi. Kami mendapatkan pasokan melalui beberapa tahapan distribusi sebelum daging ayam sampai ke kami,” terang YN, Minggu (12/7/2026)
Menurutnya, setiap mata rantai distribusi mengambil keuntungan sehingga harga yang diterima pedagang eceran menjadi lebih tinggi.
“Dengan tahapan itu, kami hanya mendapatkan sisa keuntungan setelah para bandar mengambil bagiannya. Kalau setiap tahap mengambil untung sekitar Rp2.000, lalu kami sebagai pedagang eceran dapat berapa?” lanjutnya.
YN menjelaskan, selama masa libur sekolah harga daging ayam sempat turun menjadi sekitar Rp25.000 hingga Rp28.000 per kilogram. Namun, dalam tiga hari terakhir, harga kembali naik menjadi Rp32.500 per kilogram.
“Selama libur kemarin harga ayam sempat turun hingga Rp25.000 per kilogram. Pembeli juga lumayan banyak. Namun, menjelang masuk sekolah, sudah tiga hari ini harga kembali naik menjadi Rp32.500 per kilogram,” ujarnya.
Tak hanya pedagang, salah seorang pengunjung pasar, RT (40), juga mengaku merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok, termasuk daging ayam, sehingga harus mengurangi jumlah belanja untuk menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






