KORANMANDALA.COM – Tingginya penggunaan media sosial di kalangan Generasi Z tidak hanya mengubah pola konsumsi informasi, tetapi juga memunculkan tantangan baru bagi kesehatan mental. Hal itu menjadi salah satu temuan riset KPID Jawa Barat.
Wakil Ketua KPID Jawa Barat, Almadina Rakhmaniar, mengatakan hasil riset yang dilakukan pada 2025 menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z di Jawa Barat.
Menurutnya, penelitian tersebut melibatkan 601 responden yang tersebar di enam klaster wilayah di Jawa Barat.
”KPID melakukan riset di tahun 2025 dengan responden sejumlah 601 Gen Z di Jawa Barat yang terbagi dalam enam klaster wilayah. Dari hasil riset kami menyatakan bahwa 99,83 persen Gen Z ini aktif menggunakan media sosial,” ujar Almadina, Jumat (10/7/2026).
Ia menjelaskan, konten hiburan masih menjadi pilihan utama Gen Z dalam mengakses media digital. Selain hiburan, film, musik, hingga konten politik juga menjadi bagian dari preferensi konsumsi media mereka.
”Dengan preferensi kontennya ada hiburan, film, media, musik, kemudian juga politik. Tapi di balik itu semua, kita juga harus berpikir bahwa konsumsi digital ini menimbulkan persoalan baru,” katanya.
Almadina menuturkan, tingginya konsumsi media digital tidak hanya berdampak pada pola penggunaan media, tetapi juga memunculkan berbagai persoalan psikologis seperti kecemasan (anxiety) dan fenomena*fear of missing out (FOMO).
Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, tetapi juga memengaruhi pencarian tren hingga kondisi psikologis Generasi Z.
”Bukan hanya soal keseharian yang memunculkan anxiety dan lain sebagainya, muncul FOMO karena adanya paparan konten di media sosial. Jauh dari itu, ternyata juga bermasalah dalam konteks pencarian tren dan psikologis. Itu yang dipersoalkan oleh KPID Jawa Barat,” ujarnya.
Ia menegaskan, hasil penelitian tersebut bukan sekadar kumpulan data statistik, melainkan gambaran nyata mengenai hubungan yang sangat erat antara Generasi Z dengan dunia digital.
”Temuan-temuan yang KPID Jawa Barat lakukan melalui penelitian itu tentu bukan hasil angket semata, bukan hanya tren statistik semata, tapi ini merupakan cermin nyata bahwa saat ini Gen Z dengan dunia digital sangat erat korelasinya,” ungkapnya.
Karena itu, Almadina menilai diperlukan kesadaran kolektif dari berbagai pihak untuk menciptakan ekosistem penyiaran dan media digital yang lebih sehat bagi generasi muda.
”Sehingga ini tentu membutuhkan kesadaran kolektif dan wujud nyata kolaborasi yang harus dilakukan untuk mewujudkan bagaimana dunia penyiaran yang lebih berkembang dan tentunya lebih positif kepada Gen Z khususnya,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, KPID Jawa Barat bersama ATVSI dan ISKI menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra strategis guna menghadirkan penyiaran yang tidak hanya mematuhi regulasi, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis masyarakat, khususnya Generasi Z.
”Sehingga KPID Jawa Barat bersama ATVSI dan juga ISKI berkomitmen bersama seluruh mitra strategis untuk terus menghadirkan penyiaran yang bukan hanya patuh kepada regulasi, tapi juga empati dengan kebutuhan psikologis saat ini,” tutup Almadina.

Pemerhati Psikologi Komunikasi Anak dan Keluarga, Dr. Almadina Rakhmaniar, S.Psi., M.I.Kom., CPS, CDM, (Dok.Pribadi)
Dapatkan berita informasi seputar kota Bandung dan berita terbaru menarik lainnya di Google News. Ikuti Media Sosial KORAN MANDALA untuk update berita pilihan dan breaking news setiap hari.