ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Reaktivasi Bandara Husein Sastranegara dinilai tidak boleh dipandang hanya sebagai upaya menghidupkan kembali aktivitas penerbangan.
Budayawan sekaligus Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Wawan Gunawan, menegaskan bahwa kebijakan tersebut harus menjadi titik awal transformasi ekonomi, pariwisata, dan kebudayaan Jawa Barat secara menyeluruh.
Menurut Wawan, keberhasilan reaktivasi bandara tidak dapat diukur semata dari meningkatnya jumlah penerbangan maupun penumpang, tetapi dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
“Keberhasilannya tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak pesawat yang mendarat atau berapa banyak penumpang yang datang. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah seberapa besar nilai tambah ekonomi yang tercipta, seberapa luas lapangan kerja yang dihasilkan, seberapa kuat budaya Sunda menjadi identitas global, seberapa tinggi daya saing Jawa Barat meningkat, dan seberapa besar kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan,” ujar Wawan Rabu (8/7/2026)
Ia menilai momentum reaktivasi Bandara Husein harus menjadi awal lahirnya paradigma baru pembangunan Jawa Barat yang berorientasi pada inovasi, kolaborasi, teknologi, keberlanjutan, dan kearifan lokal.
Menurutnya, Bandara Husein perlu diposisikan sebagai pusat integrasi berbagai sektor strategis, mulai dari pariwisata, perdagangan, investasi, ekonomi kreatif, pendidikan, kesehatan, olahraga, sejarah, religi hingga kebudayaan.
“Bandara Husein harus diposisikan sebagai pusat integrasi pariwisata, perdagangan, investasi, ekonomi kreatif, pendidikan, kesehatan, olahraga, sejarah, religi, dan kebudayaan, sehingga mampu menciptakan multiplier effect yang menjangkau seluruh wilayah Jawa Barat,” katanya.
Wawan mengatakan pengelolaan bandara membutuhkan visi jangka panjang, kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang konsisten, dukungan anggaran, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan melalui pendekatan hexahelix.
>”Apabila dikelola dengan visi yang besar, kepemimpinan yang kuat, kebijakan yang konsisten, ketersediaan anggaran, serta kolaborasi Hexahelix yang efektif, reaktivasi Bandara Husein akan menjadi salah satu katalis terpenting dalam mempercepat transformasi ekonomi Jawa Barat,” ucapnya.
Lebih lanjut, ia menilai indikator keberhasilan reaktivasi bandara harus mencerminkan peningkatan kualitas ekonomi daerah, bukan sekadar aktivitas transportasi udara.
Menurutnya, ukuran tersebut meliputi peningkatan kontribusi terhadap PDB daerah, naiknya investasi, bertambahnya wisatawan berkualitas, meningkatnya tingkat hunian hotel, berkembangnya transaksi UMKM dan industri kreatif, meningkatnya devisa, terbukanya lapangan kerja, hingga meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Wawan juga menekankan bahwa arah pembangunan pariwisata saat ini harus berfokus pada quality tourisml
, yakni menghasilkan nilai tambah ekonomi yang lebih besar melalui peningkatan lama tinggal wisatawan (length of stay) dan pengeluaran wisatawan (average spending).
“Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi memastikan bahwa setiap wisatawan menghasilkan nilai tambah ekonomi yang lebih besar melalui peningkatan lama tinggal, peningkatan pengeluaran, meningkatnya tingkat hunian hotel, bertambahnya transaksi UMKM, berkembangnya ekonomi kreatif, meningkatnya investasi, serta terciptanya lapangan kerja baru,” jelasnya.
Di akhir pandangannya, Wawan menegaskan Bandara Husein harus menjadi simbol transformasi Jawa Barat menuju masa depan yang lebih berdaya saing.
”Bandara Husein bukan sekadar gerbang transportasi udara. Bandara ini harus menjadi gerbang peradaban baru Jawa Barat, gerbang percepatan transformasi ekonomi, gerbang yang menghubungkan budaya dengan dunia, kreativitas dengan pasar global, teknologi dengan pelayanan publik, serta kearifan lokal Sunda dengan cita-cita besar Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






