ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi. Fondasi terpenting justru dimulai dari keluarga sebagai tempat pertama anak belajar membangun karakter, moral, dan tanggung jawab.
Pakar Psikologi Komunikasi Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Dr. Almadina Rakhmaniar, menilai kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045 sangat ditentukan oleh pola pengasuhan di dalam keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter calon pemimpin bangsa.
Almadina mengatakan, kurangnya perhatian dan pendampingan orang tua dapat menimbulkan dampak berkepanjangan terhadap perkembangan anak. Selain berpotensi memunculkan perilaku menyimpang, kondisi tersebut juga memengaruhi kesehatan mental karena anak kehilangan pedoman untuk membedakan nilai baik dan buruk.
”Dampaknya tentu berkepanjangan ya, selain tadi akan meneruskan perilaku-perilaku menyimpang tanpa ada arahan yang jelas. Untuk si anak, tentu dari kesehatan mentalnya pun akan terganggu ketika mereka tidak bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk,” ujar Almadina, Selasa, 30 Juni 2026.
Ia mengingatkan, anak-anak yang tumbuh saat ini merupakan generasi yang akan memegang peran strategis pada 2045. Karena itu, kegagalan membangun karakter sejak dini dikhawatirkan akan berdampak pada kualitas kepemimpinan Indonesia di masa depan.
”Anak-anak sekarang ini adalah calon pemimpin-pemimpin masa depan yang mungkin kalau kita berbicara Indonesia Emas 2045, ya anak-anak kitalah yang nantinya akan menjadi pemimpin di masa itu. Mereka yang punya jabatan, mereka yang punya kuasa untuk membangun negara ini. Nah, kalau tidak ada pondasi yang kuat dari anak-anak yang sekarang kita didik, kebayang akan seperti apa negara kita,” tuturnya.
Almadina menegaskan bahwa tanggung jawab terbesar dalam mendidik anak tetap berada di pundak orang tua. Menurutnya, kesibukan bekerja tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan emosional anak.
”Untuk para orang tua, yang pasti kita harus menyadari bahwa anak itu adalah tanggung jawab. Walaupun kalau secara undang-undang anak itu tanggung jawab semua orang, tapi kembali lagi bahwa yang paling mempunyai tanggung jawab itu adalah orang tua terhadap anak-anaknya sendiri,” katanya.
Sebagai langkah nyata, Almadina mendorong setiap orang tua menyediakan waktu berkualitas secara khusus bagi masing-masing anak. Menurutnya, pendekatan personal akan lebih efektif dalam membangun kedekatan emosional sekaligus menanamkan nilai-nilai kehidupan.
”Seminimalnya kita membangun lagi gerakan untuk bisa berinteraksi dengan waktu yang berkualitas dengan anak. Punya quality time tersendiri dengan anaknya masing-masing, bukan hanya family time. Setiap orang tua harus punya waktu yang berkualitas dengan masing-masing anak, karena di situlah orang tua berkewajiban memberikan pondasi yang kuat,” pungkasnya
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






