ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Aroma hangus masih menyelimuti kompleks Pesantren Al Falah Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Senin (29/6/2026). Dua hari setelah kebakaran yang melanda pondok pesantren itu pada Sabtu (27/6/2026) sore, jejak amukan si jago merah masih tampak jelas di setiap sudut bangunan.
Tembok-tembok menghitam, kayu-kayu yang berubah menjadi arang, atap yang ambruk, hingga puing-puing bangunan yang rapuh menjadi saksi bisu musibah yang mengubah suasana pesantren. Tempat yang biasanya dipenuhi lantunan ayat suci dan aktivitas para santri kini terasa hening.
Delapan ruangan terdampak kebakaran, mulai dari kobong santri putra, kobong santri putri, kamar guru, madrasah, hingga fasilitas masjid dan toilet.
ADVERTISEMENT
Namun, di balik kerusakan yang ditinggalkan api, para pengurus menemukan kisah yang mereka yakini sebagai tanda kuasa Allah SWT. Saat proses pembersihan dilakukan sejak Minggu malam hingga Senin pagi, satu per satu benda yang selama ini menjadi bagian dari aktivitas ibadah ditemukan masih utuh.
Muthi’ah Habibatul Haq, bendahara Pondok Pesantren Al Falah Dago, mengaku semula mereka tidak mengetahui apakah masih ada barang yang dapat diselamatkan setelah proses pendinginan selesai. Harapan itu muncul perlahan ketika puing-puing mulai disingkirkan.
Hal pertama yang mereka temukan adalah meja sederhana milik kiai. Bagi para santri, meja itu bukan sekadar perabot. Di sanalah sang kiai biasa mengajar, membaca Al-Qur’an, menunaikan salat, hingga bermunajat pada sepertiga malam.

“Pas lagi beres- beres ketemu meja kiai yang biasa dipakai pengajian, dipakai salat, dipakai baca Al-Qur’an di situ, tahajud di situ, itu tidak hangus terbakar ” ujarnya kepada Koran Mandala, Senin (29/6/2026).
Tak lama kemudian, kejutan lain kembali mereka temukan. Mikrofon masjid yang setiap hari digunakan untuk mengumandangkan azan ternyata tetap utuh meski berada di area yang dilalap api.
“Mik masjid yang biasanya buat azan itu enggak kebakar.” Ujarnya
Di sudut lain bangunan, sebuah kursi sederhana masih berdiri tegak di antara puing-puing. Kursi itu biasa digunakan oleh seorang jemaah lanjut usia yang hampir selalu datang lebih awal sebelum azan berkumandang.
“Kursi itu sering dipakai salah satu jemaah yang sudah sepuh. Biasanya disimpan di dekat tempat mikrofon azan. Beliau kalau salat selalu di pojokan dekat jendela, bahkan sebelum azan sudah berangkat lebih dulu ke masjid,” tuturnya.
Harapan itu semakin bertambah ketika lemari penyimpanan mushaf Al-Qur’an dan kitab-kitab dibuka. Api memang sempat menjalar hingga ke area tersebut, tetapi sebagian besar mushaf dan kitab masih dapat diselamatkan. Hanya bagian tepinya yang tampak menghitam.
“Alhamdulillah, Al-Qur’an sama kitab-kitab itu sebagian cuma pinggirannya saja yang kena. Ayat-ayat Al-Qur’annya ataupun tulisan kitabnya tidak ikut terbakar.”katanya

Pengurus juga menemukan wadah berisi air doa yang biasa digunakan saat tadarus Al-Qur’an dan pengajian kitab. Meski berada di kawasan yang terdampak kebakaran, wadah itu tetap utuh.
“Air doa yang biasa dipakai setiap tadarusan sama dibacakan kitab juga enggak hangus. Alhamdulillah masih utuh.” tambahnya
Kisah serupa terjadi pada biografi pendiri Pesantren Al Falah yang disimpan di depan madrasah. Padahal lokasi tersebut berada tidak jauh dari titik kobaran api.
“Biografi pendiri disimpan di depan madrasah. Padahal waktu itu api sudah besar banget, tapi alhamdulillah biografi pendiri selamat.” Pungkasnya

Kini, di tengah aroma hangus yang belum sepenuhnya hilang, para santri bergotong royong membersihkan sisa-sisa bangunan yang terbakar. Di antara debu, arang, dan reruntuhan, mereka memungut kembali benda-benda yang berhasil bertahan.
Bagi mereka, meja kiai, mikrofon masjid, kursi jemaah sepuh, air doa, mushaf Al-Qur’an, kitab-kitab, hingga biografi pendiri bukan sekadar barang yang luput dari kobaran api.
Di tengah musibah yang menghanguskan sebagian pesantren, benda-benda itu menjadi pengingat bahwa harapan masih dapat tumbuh di antara puing-puing, dan bahwa setiap ujian selalu menyisakan ruang untuk menguatkan ikhtiar serta keimanan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






