KORANMANDALA.COM – Tumpukan kayu, seng, dan besi berserakan di depan kios yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupannya. Dengan tangan sendiri, Haryadi membongkar bangunan sederhana sebelum dilakukan pembongkaran oleh petugas Satpol PP.
Kios Las Bengkel itu yang telah menemaninya mencari nafkah lebih dari dua dekade di kawasan Jalan Singaperbangsa, Kecamatan Coblong Kota Bandung.
Di antara suara alat berat yang bersiap meratakan bangunan lain, ada kegembiraan yang seharusnya tengah dirayakan keluarga Haryadi. Anaknya baru saja diterima di perguruan tinggi.
Namun, kebahagiaan itu datang bersamaan dengan kehilangan tempat usahanya.
”Anak Pertama baru masuk perguruan tinggi. Saya senang, tapi di sisi lain saya sedih karena usaha yang saya bangun harus tutup akibat pembongkaran,” Ucap Haryadi dengan suara pelan. Saat ditemui Selasa (23/6/2026)
Sebagai koordinator perbengkelan, Haryadi bukan hanya memikirkan dirinya sendiri. Bengkel las yang dikelolanya selama ini menjadi tempat beberapa orang menggantungkan harapan hidup.
”Walaupun saya hanya tukang bengkel las, saya bangga karena saya bisa memberikan lapangan pekerjaan kepada orang lain,” katanya.
Bagi Haryadi, penertiban bukan sekadar tentang bangunan yang hilang. Ada cerita tentang rutinitas yang terputus, pekerja yang kehilangan tempat mencari nafkah, dan orang tua yang kini harus kembali menghitung bagaimana membiayai pendidikan anaknya.
Ia mengaku memahami alasan pemerintah melakukan penataan ruang publik. Trotoar harus kembali kepada fungsinya dan kota perlu ditata lebih baik. Karena itu, ia memilih membongkar kiosnya secara mandiri sebelum alat berat turun.
”Kalau dibilang, mungkin pemerintah juga ingin menata yang lebih baik dan lebih bagus. Kami juga membuka lapangan pekerjaan. Kami tidak berjualan yang aneh-aneh,” tuturnya.
Dengan mata menerawang ke arah puing-puing bengkel, Haryadi membayangkan kemungkinan lain para pelaku usaha kecil dibina dan diberi ruang untuk tetap bertahan.
”Mudah-mudahan kita bisa dibina oleh pemerintah. Pemerintah diuntungkan, kami tidak hilang pekerjaan,” katanya.
Sebelum pembongkaran dilakukan, Haryadi mengingat adanya serangkaian pertemuan dengan berbagai pihak. Aspirasi para pedagang sempat disampaikan dalam mediasi yang difasilitasi kecamatan. Mereka berharap masih ada ruang dialog.
Namun setelah itu, surat peringatan pertama, kedua, hingga ketiga datang secara berurutan. Ia memilih membongkar sendiri tempat usahanya. Bukan karena tak sedih, melainkan karena khawatir alat berat akan merobohkan bangunan secara paksa dan seluruh peralatan kerja menjadi barang sitaan.
”Kalau sudah masuk peringatan ketiga, apalagi sudah ada alat berat, yang ditakutkan dibongkar paksa. Barang-barang kami bisa menjadi barang sitaan. Itu yang repot. Jadi lebih baik mengantisipasi,” ujarnya.
Meski kehilangan tempat usaha, Haryadi tidak menyimpan kemarahan. Ia justru menyampaikan terima kasih kepada pemerintah yang menurutnya tengah berupaya membenahi kota.
”Kita mengerti hak pejalan kaki dan kepentingan umum. Intinya kami berterima kasih kepada pemerintah. Mudah-mudahan ada solusi jalan terbaik. Buat kami ada, buat pemerintah ada, dan buat kepentingan masyarakat umum juga ada,” katanya.
Kini, serpihan bangunan itu menjadi saksi percampuran dua perasaan yang bertolak belakang dalam diri seorang ayah bangga karena anaknya berhasil melangkah menuju bangku kuliah, sekaligus cemas karena pintu tempat mencari nafkah telah tertutup.
Meski dihantam kenyataan pahit harus menutup usaha yang telah menghidupinya selama lebih dari 20 tahun, Haryadi berusaha tetap tegar. Kekuatan terbesarnya justru datang dari rumah, dari istri dan anak yang tak berhenti memberinya semangat.
”Alhamdulillah, anak saya dan istri saya terus mendukung saya. Karena yang saya bawa di pundak ini bukan cuma diri saya sendiri, ada istri dan anak yang harus saya pikirkan. Tapi insyaallah saya percaya akan ada jalan yang terbaik,” ujarnya.
Kalimat itu meluncur tanpa nada menyalahkan siapa pun. Di tengah puing-puing bengkel yang telah dibongkar, Haryadi memilih memelihara harapan. Ia percaya, setelah satu pintu tertutup, masih ada pintu lain yang akan dibukakan untuk keluarganya.
Baginya, sebagai seorang ayah, menyerah bukanlah pilihan. Yang hilang hari ini hanyalah bangunan, bukan tekad untuk terus bekerja, membiayai pendidikan anak, dan bangkit demi keluarga. Sebab, ia percaya, di balik setiap ujian selalu ada jalan terbaik yang telah disiapkan Tuhan.
