ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Kasus dugaan penganiayaan dan penyekapan yang menimpa seorang perempuan berinisial YTR selama tiga tahun di kawasan Cileunyi, Kabupaten Bandung, memicu keprihatinan mendalam dari berbagai kalangan.
Tindakan keji yang dilakukan oleh kekasih korban dinilai bukan sekadar kekerasan fisik, melainkan bentuk manipulasi psikologis yang terstruktur untuk menguasai korban sepenuhnya.
Pakar Psikologi Komunikasi Universitas Pasundan (Unpas) Bandung, Almadina Rakhmaniar, mengungkapkan bahwa dalam relasi asmara yang tidak sehat, pelaku kerap menggunakan komunikasi sebagai alat untuk membangun relasi kuasa. Strategi mengisolasi dan membatasi korban dari lingkungan sosial, menurutnya, sering kali sudah tampak sejak awal hubungan, tetapi tersamarkan oleh ekspresi kasih sayang.
ADVERTISEMENT
“Sebetulnya ini harusnya sudah bisa terlihat dari awal, tapi karena istilahnya kalau perempuan itu kan lebih luluh dengan apa yang disampaikan oleh laki-laki. Nah, mungkin dari situ ada relasi kuasa yang disampaikan dengan bahasa-bahasa yang ibaratnya berkaitan dengan seperti memberikan kasih sayang,” ujar Almadina saat diwawancarai, Senin, 22/6/2026
Almadina menjelaskan, pelaku melakukan distorsi terhadap makna cinta dan kepedulian. Bahasa yang tampak penuh perhatian justru dijadikan alat untuk mendominasi dan menekan kondisi psikologis korban.
“Jadi dia mengklaim dengan bahasa-bahasa. Bahasa kasih sayang, bahasa peduli, padahal itu bagaimana dia berstrategi untuk mendominasi korban, memanipulasi korban, menekan psikis korban,” tuturnya.
Menurutnya, komunikasi yang dibangun pelaku tidak dilandasi empati sehingga menciptakan hubungan yang sangat tidak sehat. Pelaku terus menanamkan narasi negatif kepada korban hingga korban kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Dampak dari tekanan psikologis yang berlangsung bertahun-tahun itu, lanjut Almadina, dapat memicu gangguan serius, mulai dari fobia sosial, hilangnya rasa percaya diri, hingga kesulitan menjalin hubungan sosial setelah terbebas dari pelaku.
Ia juga menyoroti budaya patriarki yang masih kuat di masyarakat sebagai salah satu faktor yang turut melanggengkan dominasi dalam hubungan. Normalisasi perilaku agresif terhadap pasangan dinilai dapat melemahkan kontrol sosial.
“Ketika ini terus terjadi, kontrol sosial juga melemah. Akhirnya banyak masyarakat yang merasa wajar atau merasa terbiasa dengan misalnya laki-laki yang memarahi perempuan, hal-hal seperti itu yang menjadi biasa, padahal itu tidak biasa karena itulah awal mula dari munculnya perilaku-perilaku yang menyimpang seperti ini,” kata Almadina.
Untuk memulihkan kondisi korban, Almadina menegaskan perlunya penanganan komprehensif melalui pendampingan trauma dan konseling psikologis secara berkelanjutan. Dukungan keluarga serta perlindungan hukum yang memadai juga dinilai penting agar korban dapat kembali merasa aman.
Selain itu, ia mendorong pemerintah memperkuat literasi mengenai hubungan yang sehat sejak usia remaja. Edukasi tentang cara memilih pasangan dan keterbukaan komunikasi dalam keluarga dinilai menjadi langkah preventif agar kasus serupa tidak terus berulang.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






