ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kembali menggaungkan komitmennya menjadikan Bandung sebagai kota ramah lansia. Namun di balik berbagai pernyataan normatif tersebut, masih terdapat puluhan ribu lanjut usia (lansia) yang hidup dalam kondisi rentan dan belum tersentuh bantuan sosial.
Komitmen itu disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Bandung, Asep Cucu Cahyadi, saat peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ke-30 yang diikuti sekitar 800 lansia aktif dan produktif dari 30 kecamatan dan 151 kelurahan di Markas Kodam III/Siliwangi, Sabtu (20/6/2026).
Dalam sambutannya, Asep menegaskan bahwa lansia merupakan kelompok yang memiliki pengalaman dan kebijaksanaan yang menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda. Ia menyebut para lansia sebagai “perpustakaan kehidupan” yang menyimpan sejarah perjuangan membangun keluarga hingga menjaga persatuan bangsa.
ADVERTISEMENT
Kedai Imah Seuri, Ruang Pemberdayaan Anak Yatim dan Duafa di Kota Bandung
“Kota yang maju adalah kota yang menjadikan para lanjut usia sebagai bagian dari pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat pembangunan,” ujar Asep.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa penghormatan terhadap lansia tidak cukup diwujudkan melalui seremoni tahunan. Sebab, tantangan yang dihadapi lansia di Kota Bandung masih sangat besar.
Data Dinas Sosial Kota Bandung menunjukkan jumlah lansia terus meningkat sekitar 5 persen setiap tahun. Dari total sekitar 2,6 juta penduduk Kota Bandung, satu dari delapan warga kini merupakan lansia.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sebanyak 91 ribu lansia masuk kategori kesejahteraan rendah. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 25 ribu orang yang telah menerima bantuan sosial. Artinya, masih terdapat sekitar 66 ribu lansia yang hingga kini belum mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
Tak hanya itu, Kota Bandung juga masih menghadapi persoalan serius terkait lansia rentan. Tercatat sekitar 4.600 lansia hidup seorang diri, 3.800 lansia terlantar, serta 301 lansia yang hidup sendiri sekaligus dalam kondisi terlantar.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan lansia di Kota Bandung bukan hanya soal penghargaan terhadap jasa generasi terdahulu, tetapi juga menyangkut pemenuhan hak dasar dan perlindungan sosial yang belum sepenuhnya terjawab.
Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Yorisa Sativa, mengakui kondisi tersebut menjadi tantangan yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, kesejahteraan lansia kini menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah.
“Tujuan kegiatan ini adalah memberikan penghargaan atas kontribusi lansia dalam membangun bangsa serta meningkatkan kepedulian berbagai pihak terhadap kesejahteraan mereka,” kata Yorisa.
Pemkot Bandung mengklaim telah menjalankan sejumlah program untuk mendukung lansia, mulai dari bantuan alat kesehatan dan alat bantu gerak, penanganan lansia terlantar, reunifikasi keluarga, penyediaan rumah singgah hingga perlindungan jaminan sosial.
Namun, besarnya jumlah lansia yang masih hidup dalam kondisi rentan menunjukkan bahwa efektivitas program-program tersebut masih perlu dievaluasi. Terlebih, peningkatan angka harapan hidup yang kerap dibanggakan pemerintah semestinya dibarengi dengan peningkatan kualitas hidup lansia secara nyata, bukan sekadar bertambahnya usia penduduk.
Di tengah pembangunan kota yang terus bergerak dengan proyek infrastruktur, investasi, dan modernisasi pelayanan publik, nasib puluhan ribu lansia yang masih berada di bawah garis kesejahteraan menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.
Jika Bandung ingin benar-benar menyandang predikat kota ramah lansia, maka ukuran keberhasilannya bukan terletak pada banyaknya acara peringatan yang digelar, melainkan pada seberapa besar jumlah lansia rentan yang berhasil keluar dari kemiskinan, memperoleh perlindungan sosial, dan menjalani masa tua dengan layak serta bermartabat.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






