KORANMANDALA.COM – Momentum menjelang Piala Dunia 2026 yang akan dimulai pada 11 Juni 2026 belum mampu mendongkrak pesanan sablon jersey di Kota Bandung. Pelaku usaha sablon mengaku permintaan masih cenderung sepi, berbeda dengan penyelenggaraan Piala Dunia pada tahun-tahun sebelumnya.
Pemilik usaha sablon di Jalan Diponegoro No. 63, Kelurahan Cihaur Geulis, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung, Redi, mengatakan hingga sehari menjelang kick-off Piala Dunia 2026 belum terlihat peningkatan pesanan atribut maupun jersey bertema sepak bola.
“Tidak ada pengaruh, sampai sekarang masih sepi. Belum ada peningkatan pesanan karena Piala Dunia,” ujar Redi, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan beberapa edisi Piala Dunia sebelumnya. Saat itu, banyak komunitas, kelompok pendukung, hingga pelanggan umum yang memesan jersey dan atribut untuk mendukung tim favorit mereka.
“Kalau dulu menjelang Piala Dunia ramai. Banyak yang bikin jersey dan atribut pendukung. Sekarang tidak ada,” katanya.
Redi menilai perubahan pola bisnis dan semakin ketatnya persaingan menjadi salah satu penyebab menurunnya permintaan. Sejak pandemi Covid-19, banyak usaha sablon baru bermunculan, termasuk yang menawarkan layanan secara online.
“Persaingan usaha sekarang jauh lebih banyak. Dulu kawasan sini belum banyak pesaing sehingga banyak pelanggan dari luar kota datang ke sini. Sekarang usaha sablon sudah ada di mana-mana. Apalagi, Sejak pandemi Covid-19 banyak usaha yang beralih ke sistem online dan terus berkembang sampai sekarang.” Ujarnya
Selain itu pengaruh dari bahan baku. Kenaikan harga plastik cukup besar, sehingga berdampak pada harga bahan. Sementara konsumen juga tidak mau kalau harga terlalu banyak dinaikkan
“Misalnya kemarin saya mengerjakan pesanan dari sekolah, saya sampaikan kalau ada kenaikan biaya sekitar Rp5 ribu karena bahan baku naik dan mereka memahami. Tapi ada juga konsumen yang keberatan. Bahkan penjual kain juga mengeluhkan hal yang sama karena pembeli banyak yang menunda belanja.” Katanya
Selain itu, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih juga memengaruhi minat konsumen untuk membuat jersey atau atribut baru menjelang ajang olahraga terbesar di dunia tersebut.
Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi kenaikan harga bahan baku, terutama bahan polyester yang umum digunakan untuk pembuatan jersey olahraga. Meski biaya produksi meningkat, pelaku usaha mengaku tidak mudah menaikkan harga karena khawatir konsumen beralih atau menunda pesanan.
“Kalau bahan polyester naik cukup terasa, sekitar Rp10 ribu per kilogram. Tapi harga ke konsumen tidak bisa langsung dinaikkan terlalu besar,” ujarnya.
Saat ini, pesanan yang masih berjalan didominasi kebutuhan sekolah dan pelanggan yang membawa bahan sendiri untuk disablon. Redi berharap gairah ekonomi masyarakat dapat membaik sehingga permintaan produk sablon kembali meningkat.
“Harapannya ekonomi bisa stabil lagi supaya usaha kecil seperti kami juga ikut bergerak,” pungkasnya.
