ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Kenaikan harga kedelai yang terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai menekan pelaku usaha tahu dan tempe di Kota Bandung. Pengrajin tahu di Sentra Tahu Cibuntu mengaku keuntungan usaha terus menyusut akibat harga bahan baku yang naik hampir setiap hari, sementara harga jual produk masih dipertahankan.
Pengrajin Tahu Cibuntu, Muhammad Jamaludin, mengatakan harga kedelai saat ini telah mencapai sekitar Rp11.000 per kilogram. Padahal sebelum Ramadan, harga kedelai masih berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram.
“Sekarang ini sekitar Rp11.000 satu kilogramnya. Sebelum puasa harga kacang kedelai sekitar Rp8.000 hingga Rp9.000. Dampak perang di Timur Tengah ditambah sekarang dolar terus naik, jadi harga kacang kedelai terus naik,” ujar Jamaludin. Selasa (9/6/2026)
ADVERTISEMENT
Menurutnya, kenaikan harga masih terus berlangsung. Bahkan dalam beberapa hari terakhir harga kedelai mengalami kenaikan sekitar Rp100 per kilogram.
“Kemarin naik Rp100. Kalau dolarnya seperti ini ya bakal terus naik, kita tunggu dulu kenaikan ini sampai berapa,” katanya.

Pengrajin Pertimbangkan Aksi Mogok Produksi
Meski biaya produksi meningkat, para pengrajin belum menaikkan harga maupun mengurangi ukuran tahu yang dijual kepada konsumen. Namun, kondisi tersebut membuat keuntungan usaha semakin menipis bahkan sebagian produsen mulai merugi.
“Harga masih normal, ukuran masih normal. Kita belum memperkecil ukuran dan menaikkan harga. Kita masih menunggu karena hampir tiap hari harga kacang kedelai naik,” ucapnya.
Ia mengungkapkan kenaikan harga kedelai juga diikuti kenaikan bahan pendukung lainnya, seperti plastik kemasan.
“Makanya kita sekarang menjerit karena naiknya terus-terusan, kemudian diikuti yang lainnya juga seperti plastik naik juga. Kita belum menaikkan harga meskipun harga kedelai naik. Makanya keuntungan kita berkurang bahkan ada sampai merugi,” katanya.
Jamaludin mengatakan para pengrajin mulai mempertimbangkan aksi mogok produksi apabila pemerintah tidak mampu mengendalikan harga kedelai atau memberikan solusi bagi pelaku usaha.
“Kemungkinan untuk menaikkan harga tahu kita lewat demo lagi mungkin. Kalau memang tidak ada jalan keluar dan pemerintah tidak bisa mengatasinya untuk menurunkan harga kedelai, ya kita mungkin akan demo lagi dengan menaikkan harga tahu dan tempe,” ujarnya.
Minta Pemerintah Turun Tangan
Ia menjelaskan aksi yang biasa dilakukan para pengrajin adalah mogok produksi secara serentak sebagai bentuk protes atas tingginya harga bahan baku.
“Biasanya demonya mogok produksi. Waktu tahun 2023 kita mogok produksi selama tiga hari, itu pun untuk menaikkan harga cuma Rp50 per pcs,” tuturnya.

Menurut Jamaludin, kenaikan harga produk tidak bisa dilakukan secara sepihak karena harus disepakati oleh seluruh pengrajin agar tidak menimbulkan persaingan yang tidak sehat.
“Kita tidak bisa seenaknya menaikkan harga. Kita harus kompak menaikkan harganya semua,” katanya.
Selain meminta stabilisasi harga, para pengrajin juga berharap pemerintah dapat kembali memberikan subsidi kedelai seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.
“Kalau pemerintah tidak bisa menurunkan harga kedelai, mungkin lewat subsidi juga bisa sebenarnya. Seperti tahun 2023 ada subsidi, tinggal penyalurannya saja bagaimana,” ujarnya.
Jamaludin menambahkan, saat ini sudah mulai muncul wacana mogok produksi di kalangan pengrajin tahu karena harga bahan baku terus meningkat sementara harga jual di tingkat pedagang belum mengalami kenaikan.
“Ini juga sudah mulai para pengrajin tahu yang mau mogok, karena dari pedagang belum ada kenaikan,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






