ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Dady Rohanady, menyoroti lambannya perkembangan proyek Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka yang hingga kini dinilai belum menunjukkan kemajuan signifikan. Padahal, fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan sampah di kawasan Bandung Raya dan sekitarnya.
Dady menjelaskan, pembangunan fasilitas pengolahan sampah regional seperti TPPAS Legok Nangka dan TPPAS Nambo merupakan bagian dari kebijakan yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. Kedua proyek tersebut dirancang untuk melayani wilayah yang berbeda sesuai kebutuhan pengelolaan sampah regional.
“TPA Nambo itu mengurus wilayah Depok dan Bogor. Sementara Legok Nangka dirancang untuk melayani Bandung Raya, Sumedang, bahkan Garut. Kebijakan seperti ini memang sudah diatur dalam perundang-undangan,” kata Dady, Minggu, 7 Juni 2026.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, ia menyayangkan realisasi proyek Legok Nangka yang terus mengalami penundaan. Menurutnya, DPRD Jawa Barat sudah berulang kali menerima target penyelesaian proyek, namun hingga kini hasil yang dijanjikan belum terlihat.
“Yang kita sayangkan, kenapa lama sekali tidak bergerak di eksekutif. Saya jadi dewan sejak 2009, rasanya dewan terus diberi harapan tetapi realisasinya belum terlihat,” ujarnya.
Dady menilai keterlambatan proyek tersebut tidak hanya mengecewakan DPRD, tetapi juga masyarakat yang selama ini menunggu hadirnya solusi konkret untuk mengatasi persoalan sampah di Jawa Barat.
“Dewan kecewa mungkin enggak terlalu masalah. Tapi kalau sudah masyarakat kecewa, kecewanya kan bukan cuma terhadap eksekutif, tapi terhadap pemerintahan Jawa Barat secara keseluruhan. Mulai dari desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten, dewan provinsi dan sebagainya,” katanya.
Sorotan terhadap proyek Legok Nangka semakin menguat seiring proyeksi kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang diperkirakan hanya mampu menampung sampah hingga Oktober 2026. Kondisi tersebut membuat keberadaan fasilitas pengolahan sampah regional menjadi semakin mendesak.
Dady menegaskan, Legok Nangka sejak awal dirancang sebagai fasilitas pengolahan sampah modern yang mampu mengurangi volume sampah secara signifikan. Karena itu, ia mengingatkan agar proyek tersebut tidak berakhir hanya sebagai lokasi pembuangan sampah seperti TPA konvensional.
“Sampai hari ini kita belum melihat progres yang signifikan. Kalau pada akhirnya hanya menjadi tempat pembuangan, nasibnya akan sama dengan Sarimukti. Kita hanya menumpuk sampah, padahal konsep awalnya bukan seperti itu,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






