KORANMANDALA.COM – Aroma bumbu yang sedang ditumis masih tercium dari dapur Warteg Sumber jaya di Jalan Tamansari, Kota Bandung. Di balik kesibukan menyiapkan menu harian, pemilik warteg, Sopro (60), harus menghadapi kenyataan pahit harga bahan pokok terus naik, sementara harga makanan yang dijual tetap dipertahankan.
Bagi Sopro, menaikkan harga bukan pilihan mudah. Sebagian besar pelanggan wartegnya merupakan mahasiswa dan pekerja yang mengandalkan makanan dengan harga terjangkau.
“Pasti ada dampaknya. Soalnya sekarang beras sudah naik, cabe naik, Plastik juga naik. Ya bahan-bahan pokok naiklah di pasar. Makanya kalau bisa pemerintah harus benar-benar melakukan pengawasan kepada pasar ” ujar Sopro saat ditemui di kedainya Jum’at ( 5/6/2026)
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada beras dan cabai. Berbagai bahan bumbu dapur yang menjadi kunci cita rasa masakan warteg juga ikut terdampak. Berbeda dengan sebagian pelaku usaha yang menggunakan bumbu instan, Sopro memilih meracik seluruh bumbu sendiri demi menjaga kualitas masakan.
Mulai dari cabai, bawang, kemiri, kunyit, jahe, hingga lengkuas diolah secara mandiri. Bahkan, bahan-bahan tersebut dicuci dan dibersihkan terlebih dahulu sebelum digiling dan dimasak.
“Kalau saya tidak pernah beli bumbu jadi. Semuanya bikin sendiri supaya lebih higienis dan tahu bahannya. Lengkuas, jahe, kunyit, kemiri semua dicuci lagi. Jadi kita tahu kebersihannya,” katanya.
Namun menjaga kualitas itu kini membutuhkan biaya lebih besar. Harga cabai rawit yang mencapai Rp80 ribu per kilogram membuat biaya produksi meningkat hampir setiap hari. Sementara harga beras yang biasa dibelinya juga mengalami kenaikan.
“Beras satu kuintal sebelumnya Rp1.570.000, sekarang naik sekitar Rp35 ribu per kuintalnya. Cabe rawit sekarang Rp80 ribu per kilogram,” ujarnya.
Meski biaya produksi meningkat, Sopro tetap berusaha mempertahankan harga menu. Akibatnya, keuntungan yang biasanya diperoleh setiap hari mengalami penurunan cukup signifikan.
“Kita enggak menaikkan harga. Jadi laba kita yang berkurang. Kalau umpamanya yang biasa dapat Rp100 ribu, sekarang mungkin hanya Rp70 ribu. Pemasukan jelas berkurang,” tuturnya.
Ia juga memastikan porsi makanan yang disajikan kepada pelanggan tidak banyak berubah meski keuntungan semakin menipis.
“Untuk di porsi kita masih sama meski laba kita berkurang” Ungkapnya
Sopro yang telah berjualan selama hampir 25 tahun mengaku kondisi saat ini menjadi salah satu tantangan terberat yang dihadapinya sejak pandemi Covid-19.
“Saya merasa kenaikan harga ini lebih -lebih dari Covid yaa, Sangat terasa sekali tahun ini, apalagi habis Lebaran kemarin benar-benar semuanya serba naik.” Ujarnya
Di tengah kondisi tersebut, loyalitas pelanggan menjadi alasan utama dirinya tetap bertahan. Salah satunya Arif (21), mahasiswa yang hampir setiap hari makan di warteg tersebut karena harganya masih terjangkau dibanding tempat makan lain di sekitar kampus.
Menurut Arif, kenaikan harga bahan pokok memang sulit dihindari, namun ia mengapresiasi keputusan warteg yang tidak langsung menaikkan harga makanan.
“Kalau dibanding tempat lain, di sini masih terjangkau. Sebagai mahasiswa tentu sangat membantu karena uang makan juga terbatas,” katanya.
Hal serupa disampaikan Fuzia (22), mahasiswa yang telah menjadi pelanggan Warteg Sumberjaya selama beberapa tahun terakhir. Ia mengaku memahami kondisi pedagang yang harus menghadapi kenaikan harga bahan baku.
“Kalau harga bahan pokok naik pasti pedagang juga terdampak. Saya senang karena sampai sekarang harga makanannya masih cukup ramah di kantong mahasiswa, dan juga warteg disini bersih” ujarnya.
Bagi Sopro, harapan terbesar saat ini adalah adanya pengawasan harga yang lebih ketat dari pemerintah agar kenaikan bahan pokok tidak semakin membebani pedagang kecil.
“Harapannya semuanya bisa berjalan lancar. Pemerintah juga memperhatikan orang-orang yang di bawah kami selalu rakyat kecil, Tolong juga pasar selalu dikontrol supaya harga tidak terlalu tinggi.” pungkasnya.
