KORANMANDALA.COM – Ketua Umum Viking Persib Club, Tobias Ginanjar, mengungkapkan perasaan berat setelah organisasi yang pernah ia dirikan, Viking Frontline, resmi dibekukan buntut kasus dugaan pengeroyokan terhadap sesama Bobotoh.
Pembekuan dilakukan terhadap dua distrik, yakni Viking Frontline dan United Colours of Bobotoh (UCB), setelah adanya insiden kekerasan yang melibatkan anggota dari kedua komunitas tersebut.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Tobias mengaku memiliki ikatan emosional dengan Frontline karena ikut mendirikannya sejak 2005 bersama sejumlah rekannya.
“2005 saya bersama beberapa teman mendirikan Frontline. Banyak cerita dilalui, ada yang pergi, ada yang telah mendahului meninggalkan untuk selamanya, tapi banyak pula yang masih bertahan,” tulis Tobias, dikutip Kamis (28/5/2026).
Ia menjelaskan, Frontline sejak awal dibentuk dengan semangat kebersamaan dan solidaritas antarsuporter Persib Bandung.
“Frontline didirikan dengan semangat kebersamaan dan saling menjaga satu sama lain. Seiring bertambah usia, ‘Forever Young Forever Persib’ adalah pengingat agar kita tidak pernah merasa lelah dan merasa tua untuk Persib,” ujarnya.
Namun Tobias mengaku merasa bersalah karena dalam tiga tahun terakhir dirinya tidak bisa memperhatikan Frontline secara penuh setelah dipercaya menjadi Ketua Umum Viking Persib Club.
“Ada perasaan bersalah dalam diri bahwa tiga tahun ke belakang saya meninggalkan dan tidak memperhatikan Frontline karena panggilan tugas menjadi Ketua Umum Viking,” katanya.
Ia menyebut keputusan membekukan Frontline menjadi salah satu keputusan terberat yang pernah diambilnya.
“Hari ini saya harus menerima kenyataan bahwa saya harus mengeluarkan dan menandatangani surat pembekuan pada distrik yang saya dirikan sendiri dulu,” ungkapnya.
Tobias menegaskan pembekuan tersebut tidak memiliki batas waktu pasti. Menurutnya, Frontline baru bisa kembali jika dianggap sudah lebih dewasa dan mampu kembali pada semangat awal organisasi.
“Kalau ada yang nanya sampai kapan, yang pasti batas waktunya tidak akan singkat. Bisa satu tahun, bisa lima tahun atau mungkin bisa selama-lamanya, tergantung apakah Frontline sudah siap dewasa dan bertanggung jawab untuk kembali seperti cita-cita awal pertama kali dibentuk,” jelasnya.
Ia bahkan menilai lebih baik Frontline tidak kembali jika hanya akan melenceng dari nilai dan tujuan awal organisasi.
“Kalau dirasa belum, lebih baik tidak usah kembali selama-lamanya daripada dipaksakan tapi melenceng dari semangat dan cita-cita awal,” tegas Tobias.
Dalam unggahan tersebut, Tobias juga mengibaratkan organisasi seperti tubuh yang sesekali membutuhkan proses pembersihan dari hal-hal negatif.
“Terkadang organisasi pun butuh detox untuk mengeluarkan racun-racun toxic agar organisasi tersebut bisa lebih sehat,” pungkasnya.
Sebelumnya, Viking Persib Club telah mencabut status keanggotaan para terduga pelaku pengeroyokan dan menegaskan tidak akan memberikan pendampingan hukum terhadap pihak yang terlibat kasus kekerasan tersebut.
