ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Pasokan daging sapi di Kota Bandung masih didominasi dari luar daerah dan impor, sementara sisanya masih bergantung pada pasokan dari sejumlah daerah dan negara lain. Kondisi tersebut disebut turut memengaruhi kenaikan harga daging sapi menjelang Iduladha.
Kenaikan harga itu juga dirasakan para pedagang di Pasar Kosambi. Mereka harus menyesuaikan harga pasokan di tengah kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat yang dapat menurun jika harga terus naik.
Salah satu pedagang daging sapi di Pasar Kosambi, Lilis (60), mengaku sempat menghentikan aktivitas penjualan selama dua hari pada 17–18 Mei 2026 akibat kendala pasokan dari rumah potong hewan.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, saat itu tidak ada proses pemotongan sapi sehingga stok daging ikut terganggu.
“Kemarin sempat tutup selama dua hari karena dari sananya katanya enggak ada yang mau motong sapinya,” kata Lilis saat ditemui di Pasar Kosambi, Jumat (22/5/2026).
Lilis mengatakan kenaikan harga daging mulai terasa sejak setelah Lebaran dan terus berlanjut menjelang Iduladha. Saat ini harga daging sapi berada di kisaran Rp160 ribu per kilogram.
Meski demikian, ia mengaku para pedagang berusaha tidak menaikkan harga jual terlalu tinggi kepada konsumen agar jumlah pembeli tidak berkurang.
“Cuma memang naik harganya Rp160 ribu per kilogram. Tapi karena kita enggak bisa naikin lagi ke konsumen, cuma alhamdulillah kalau pembeli ya ada saja,” ujarnya.
Ia berharap harga dari tingkat pemasok maupun rumah potong dapat tetap stabil sehingga tidak semakin membebani pedagang maupun masyarakat.
“Harapannya dari pemotong stabil saja harganya, karena kita juga bingung mau naikin harga ke konsumen, nanti peminatnya sedikit,” ucapnya.
Sebelumnya, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menjelaskan terdapat dua faktor utama yang memengaruhi kenaikan harga daging sapi di Kota Bandung. Menurutnya, mayoritas bibit sapi yang digunakan masih bergantung pada pasokan impor.
“Demikian juga dengan sebagian pakan ternaknya naik. Jadi ini memang akibat berantai yang menyebabkan pedagang itu merasa terlalu berat untuk menjual dengan harga yang diminta oleh para penyuplai daging di Kota Bandung,” kata Farhan, Senin (18/5/2026).
Farhan mengatakan pasokan daging sapi segar di Kota Bandung hanya sekitar 2 persen yang berasal dari pasar lokal, sementara sisanya dipasok dari wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta impor dari negara seperti Australia, India, dan Selandia Baru.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






