KORANMANDALA.COM – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, persoalan kesehatan hewan kurban hingga potensi meningkatnya sampah plastik menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Bandung.
Tingginya lalu lintas hewan dari berbagai daerah membuat risiko penyebaran penyakit zoonosis penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia menjadi ancaman yang tidak bisa dianggap sepele.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, mengungkapkan pengawasan kesehatan hewan kurban dilakukan secara ketat untuk mengantisipasi risiko tersebut.
Usai Cicadas, Pemkot Bandung Siapkan Penataan Monju dan Tegallega
Menurutnya, ancaman utama jelang Iduladha bukan hanya soal ketersediaan hewan kurban, tetapi memastikan hewan yang disembelih benar-benar sehat dan aman dikonsumsi masyarakat.
“Kami memeriksa bagian kepala, daging hingga organ dalam seperti paru-paru, limpa, dan jantung untuk memastikan tidak ada penyakit yang berpotensi menular ke manusia,” ujar Gin Gin
DKPP melakukan pengawasan melalui dua tahapan, yakni pemeriksaan antemortem saat hewan masih hidup dan post-mortem setelah penyembelihan. Pemeriksaan pasca-potong dinilai paling krusial karena dapat mendeteksi penyakit yang tidak terlihat secara kasat mata.
Jika ditemukan indikasi gangguan kesehatan pada organ tertentu, bagian tersebut akan langsung dipisahkan dan tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi maupun didistribusikan ke masyarakat.
Di sisi lain, tingginya mobilitas hewan kurban juga meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit berbahaya seperti antraks dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Kota Bandung disebut masuk kategori wilayah waspada karena menjadi jalur masuk hewan dari berbagai daerah.
Meski demikian, Gin Gin memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus zoonosis yang mengkhawatirkan di Kota Bandung.
“Kota Bandung memang masuk kategori waspada karena lalu lintas hewan tinggi, tetapi Alhamdulillah sejauh ini tidak ditemukan kasus zoonosis yang mengkhawatirkan,” katanya.
Persoalan lain yang turut menjadi perhatian adalah masih minimnya pemahaman masyarakat terkait ciri hewan kurban layak. Salah satunya soal usia dan kondisi fisik hewan, termasuk gigi kambing atau domba yang menjadi indikator penting kesehatan dan kelayakan kurban.
Selain risiko kesehatan, Iduladha juga berpotensi memunculkan persoalan lingkungan, terutama meningkatnya penggunaan kantong plastik saat distribusi daging kurban.
DKPP Kota Bandung mulai mendorong panitia kurban untuk mengurangi plastik sekali pakai dan beralih ke wadah ramah lingkungan seperti besek atau daun.
Tak hanya itu, pemerintah juga mewaspadai dampak sosial dari lokasi penjualan dan penyembelihan hewan kurban yang kerap memicu gangguan kebersihan dan ketertiban lingkungan permukiman. Untuk itu, lokasi penjualan hewan kurban diimbau berjarak minimal 200 meter dari kawasan warga.
“Kalau ditemukan pelanggaran, tentu akan dilakukan penertiban bersama kewilayahan dan Satpol PP,” tegas Gin Gin.
Dengan meningkatnya risiko penyakit hewan, persoalan limbah plastik, hingga ketertiban lingkungan saat Iduladha, DKPP Kota Bandung kini berpacu memastikan pelaksanaan kurban tidak hanya memenuhi syariat, tetapi juga aman bagi kesehatan publik dan lingkungan.
