Langkah antisipasi itu ditandai dengan digelarnya sosialisasi irigasi perpompaan dan pemeliharaan jaringan irigasi tersier yang melibatkan kelompok tani serta perwakilan kementerian terkait.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardi Firdian mengatakan, program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman musim kemarau ekstrem.
Kapolres Garut Pimpin Pengamanan dan Pelepasan Calon Jemaah Haji Kabupaten Garut Tahun 1447 H / 2026 M
“Sosialisasi pelaksanaan kegiatan irigasi perpompaan serta pemeliharaan jaringan irigasi tersier, sekaligus penandatanganan perjanjian kerja sama antara PPK dari Direktorat Irigasi Dirjen RIP dengan kelompok tani yang akan melaksanakan kegiatan ini,” kata Ardi, Jumat, 7 Mei 2026.
Pada tahap pertama, Dinas Pertanian Garut mengajukan program KIRFOM untuk 34 kelompok tani dan RGIT bagi 10 kelompok lainnya. Program itu akan dilakukan secara bertahap hingga seluruh target pelaksanaan terpenuhi.
Menurut Ardi, langkah tersebut penting dilakukan karena berdasarkan informasi dari BMKG, Indonesia berpotensi mengalami kemarau lebih panjang dibanding tahun sebelumnya akibat fenomena El Nino ekstrem yang disebut “Godzilla El Nino”.
“Tahun ini informasi dari BMKG menyebutkan seluruh Indonesia akan mengalami kemarau lebih panjang dari tahun sebelumnya. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus 2026,” ujarnya.
Menghadapi ancaman itu, Dinas Pertanian Garut mengaku telah menyiapkan 95 unit pompa brigade yang ditempatkan di sejumlah kecamatan rawan kekeringan. Pompa tersebut disiapkan untuk menyelamatkan lahan pertanian, khususnya tanaman padi, saat pasokan air mulai menurun.
“Pompa brigade itu bisa digunakan sewaktu-waktu apabila sawah mengalami gejala kekeringan,” tegasnya.
Selain pompa brigade, pemerintah juga memperkuat sistem irigasi perpompaan yang sebelumnya sudah dibangun di sejumlah wilayah pertanian.
Beberapa daerah di Garut yang mulai dipetakan rawan kekeringan di antaranya Kecamatan Cibatu dan sejumlah kawasan selatan Garut. Wilayah tersebut hampir setiap tahun mengalami krisis air saat musim kemarau tiba.
Untuk mengatasi persoalan sumber air, Dinas Pertanian lebih merekomendasikan pemanfaatan air permukaan seperti sungai dan danau dibanding sumber air untuk kebutuhan rumah tangga.
Di sisi lain, Ardi juga menyoroti terus menyusutnya lahan pertanian produktif akibat alih fungsi lahan, terutama di wilayah perkotaan. Saat ini luas sawah di Kabupaten Garut tercatat sekitar 46.725 hektare, turun dibanding beberapa tahun sebelumnya yang sempat mencapai lebih dari 47 ribu hektare.
“Seiring waktu terjadi alih fungsi lahan. Setelah dilakukan pendataan ulang, luas sawah saat ini tercatat 46.725 hektare,” pungkasnya.