KORANMANDALA.COM –Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung atau Bandung Heritage Society menyampaikan kritik terhadap proyek integrasi Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Selain dinilai dapat merusak struktur kawasan, elemen-elemen bangunan yang dihadirkan dalam desain juga disebut tidak selaras dengan filosofi perancangan awal.
Dalam desain yang beredar di media sosial, salah satunya yang diunggah oleh akun Instagram resmi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (dedimulyadi71), tampak sejumlah elemen bangunan menyerupai gerbang keraton atau candi berdiri di tengah-tengah lanskap halaman Gedung Sate dan Gasibu yang telah terintegrasi.
Ketua Bandung Heritage Society, Aji Bimarsono, memandang kehadiran elemen tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan konsep kawasan yang dibangun sejak awal abad ke-20.
“Keberadaan bentukan candi itu tidak tepat dan tidak cocok ada di kawasan ini, karena konteksnya sangat berbeda dengan apa yang menjadi pemikiran dari para arsitek Belanda yang ketika merancang kawasan Gedung Sate,” kata Aji saat dihubungi, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, kawasan Gedung Sate dirancang dengan pendekatan perencanaan kota modern pada masanya. Salah satu konsep yang digunakan adalah garden city atau kota taman, yang mengedepankan perpaduan antara bangunan dan lanskap taman.
Aji menjelaskan, tradisi perancangan kota taman saat itu dipengaruhi beberapa aliran utama, seperti aliran Prancis yang menekankan konsep sumbu dan monumentalitas serta aliran Inggris yang lebih organik dan menyerupai lanskap alami.
Para arsitek Belanda di Bandung kemudian menyesuaikan pendekatan tersebut dengan kondisi tropis di Indonesia melalui pemanfaatan vegetasi sebagai elemen utama pembentuk ruang. Hal ini salah satunya bisa terlihat dari deretan pohon angsana di samping Jalan Diponegoro yang hingga kini membentuk kesan monumental kawasan.
“Jadi untuk vertikalnya itu tidak dibuat tiang-tiang buatan tapi justru pohon yang ditanam berjejer. Ini kan menunjukkan bagaimana mereka menginovasikan konsep-konsep taman di barat dengan karakteristik dari vegetasi dan alam di Nusantara, jadi semacam perpaduan barat dan timur,” imbuhnya.
Maka dari itu, Aji menilai kehadiran elemen berbentuk candi dalam desain baru bertolak belakang dengan pendekatan tersebut. Menurutnya, penggunaan bentuk arsitektur seperti candi atau gerbang keraton, tidak relevan dengan sejarah perancangan kawasan Gedung Sate.
“Ini menjadi satu intervensi yang kurang tepat menurut kami, bahwa filosofi yang coba dilakukan oleh para arsitek Belanda di masa lalu, sekarang kok jadi diubah ekspresinya dengan intervensi-intervensi seperti itu,” ujarnya.
Ia menegaskan, penataan harusnya mengedepankan elemen lanskap yang bersifat alami, seperti pepohonan, tanaman berbunga, dan hamparan rumput yang menciptakan kesan ruang terbuka yang asri. Pendekatan ini juga dinilai lebih sesuai dengan karakter Kota Bandung yang berjuluk ‘Kota Kembang’.
“Utamakan elemen penataan landscape yang sifatnya softscape atau natural, berupa tanaman baik pohon besar atau bunga-bungaan, tanaman-tanaman perdu atau misalnya hamparan-hamparan rumput. Nah itu yang menjadi cirinya,” katanya.
Bandung Heritage pun mendorong agar penataan kawasan dilakukan dengan pemahaman yang memadai terhadap sejarah dan konsep perancangan awal. Kajian terhadap dokumentasi lama juga dinilai penting agar intervensi yang dilakukan tetap selaras dengan karakter kawasan.
“Yang harus dipelajari itu bagaimana ekspresi-ekspresi yang dulu dirancang oleh Belanda melalui foto-foto yang lama, nanti bagaimana diimplementasikannya. Jadi gak kayak sekarang nih kayaknya gak ada kajiannya,” pungkas Aji.
