Kegiatan tersebut diramaikan berbagai pertunjukan seni budaya Sunda yang sarat nilai historis, termasuk peran kesenian sebagai media penyebaran agama Islam di masa lampau. Karnaval juga melibatkan berbagai unsur, mulai dari SKPD, pelajar dari tingkat taman kanak-kanak hingga masyarakat umum. Kehadiran pelaku UMKM turut memberi warna sekaligus mendorong perputaran ekonomi lokal.
Antusiasme masyarakat terlihat dari membludaknya penonton yang memadati lokasi acara. Namun di balik kemeriahan tersebut, muncul sorotan dari salah satu tokoh yang mengaku memiliki keterkaitan langsung dengan sejarah Limbangan.
PDIP Konsolidasi di Bandung, Target Menang Mutlak pada Pemilu 2029
Nyai Tangulun, yang memiliki nama asli Ani Sumarni, menyampaikan kekecewaannya karena merasa tidak dilibatkan dalam kegiatan yang mengangkat sejarah Limbangan. Ia dikenal sebagai sosok yang memegang mandat pemeliharaan pusaka manuskrip sejarah Limbangan.
Melalui surat terbuka yang sempat beredar, Nyai Tangulun mengungkapkan posisinya sebagai penjaga warisan sejarah.
“Hari ini saya menulis surat bukan sebagai pejabat, bukan sebagai tamu undangan. Saya menulis sebagai perempuan yang dititipi mandat menurunkan pusaka manuskrip keramat Limbangan ke anak cucu,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan keprihatinan atas pelaksanaan acara yang dinilainya belum melibatkan pihak yang memiliki keterkaitan langsung dengan sumber sejarah.
“Saya merasa prihatin, karena Gebyar Pesona Budaya Garut digelar megah, bicara tentang Limbangan, tapi keluarga besar Tangulun dan Museum Bumi Nyai Tangulun tidak dilibatkan,” katanya.
Menurutnya, pelibatan pewaris sejarah menjadi hal penting dalam kegiatan yang mengangkat nilai-nilai budaya dan sejarah daerah. Ia pun menyampaikan sejumlah harapan kepada pemerintah.
Nyai Tangulun meminta agar pemerintah lebih peka terhadap keberadaan penjaga budaya, bijak dalam melibatkan sumber sejarah, serta adil dalam memperhatikan keberlangsungan pelestarian arsip dan museum.
“Penjaga budaya bukan hanya pengisi acara, tetapi juga mereka yang menjaga naskah dan sejarah. Kami berharap dilibatkan sebelum kegiatan digelar,” tuturnya.
Gebyar Pesona Budaya Garut 2026 menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya dan sejarah daerah. Namun, polemik yang muncul menunjukkan pentingnya kolaborasi yang lebih inklusif antara penyelenggara dan para pemangku warisan sejarah di masa mendatang.