ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Kenaikan harga LPG nonsubsidi mendorong sebagian warga di Kota Bandung mulai melirik penggunaan LPG subsidi 3 kilogram. Berdasarkan pantauan di salah satu agen LPG di Kota Bandung, sejak 18 April 2026, harga LPG 12 kilogram naik dari sekitar Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu, sementara LPG 5,5 kilogram naik dari Rp90 ribu menjadi Rp107 ribu.
Kenaikan ini mulai berdampak pada pola konsumsi masyarakat, terutama di tingkat rumah tangga dan pelaku usaha.
Febi (33), warga Cibeunying Kidul, Kota Bandung, mengaku mulai mempertimbangkan beralih dari LPG 12 kilogram ke tabung 3 kilogram setelah harga melonjak. Ia menilai selisih harga tersebut cukup terasa dalam pengeluaran bulanan.
ADVERTISEMENT
Harga LPG Nonsubsidi di Bandung Naik, Stok Aman di Agen, Seret di Pengecer
“Kaget juga ya naiknya Rp30.000 lebih, cukup berat, jadi kepikiran pindah ke yang 3 kilo dulu,” ujarnya saat ditemui, Rabu (22/4/2026).
Menurut Febi, sebelumnya ia memilih LPG 12 kilogram karena lebih praktis dan tidak perlu sering mengganti tabung. Namun, kondisi harga saat ini membuatnya harus menyesuaikan kebutuhan dengan kemampuan. Ia masih memantau perkembangan harga sebelum benar-benar memutuskan beralih.
“Kalau harganya terus naik, mau enggak mau harus cari yang lebih terjangkau,” katanya.
Ia berharap harga LPG nonsubsidi bisa kembali turun agar masyarakat tidak perlu beralih ke opsi lain.
“Semoga bisa turun lagi, biar enggak terlalu berat,” ucapnya.
Pertimbangan serupa muncul dari pelaku usaha. Manto (42), pemilik usaha makanan di kawasan Cibiru, Kota Bandung, mulai menghitung ulang biaya operasional setelah harga LPG 5,5 kilogram mengalami kenaikan.
Manto mengatakan saat ini dirinya mulai mempertimbangkan beralih ke LPG 3 kilogram untuk menekan biaya. Selama ini, ia bisa menggunakan satu tabung LPG 5,5 kilogram untuk 2-3 hari.
“Lagi dihitung-hitung, kalau pakai 3 kilo mungkin lebih ringan di awal, walaupun harus lebih sering ganti,” ujarnya.
Ia mengaku belum sepenuhnya beralih karena masih menyesuaikan dengan kebutuhan dapur yang cukup tinggi.
“Masih lihat situasi dulu, tapi memang ada rencana ke sana,” katanya.
Ia berharap harga LPG nonsubsidi tidak terus mengalami kenaikan agar pelaku usaha sepertinya tetap bisa bertahan. Menurutnya, stabilitas harga sangat penting untuk menjaga biaya produksi tetap terkendali.
“Harapannya sih jangan terlalu lama naiknya, kalau bisa segera turun lagi,” ujar Manto.
*LPG Nonsubsidi untuk Warga Kurang Mampu*
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan LPG nonsubsidi memang diperuntukkan bagi masyarakat dengan kemampuan ekonomi lebih tinggi.
Ia menilai kenaikan harga LPG nonsubsidi tidak seharusnya menjadi beban bagi kelompok tersebut, mengingat skema subsidi difokuskan untuk masyarakat kurang mampu.
“Saya mau tanya, kalau nonsubsidi itu untuk orang kaya atau untuk orang susah? Ya udah orang mampu, kan gini lho bos, negara itu hadir untuk membantu semua rakyat, tetapi prioritasnya itu adalah kepada saudara-saudara kita yang tidak mampu. Kalau yang mampu, ya harusnya dia berkontribusi untuk saling membantu itu aja kok,” ujarnya di Jakarta, Jumat (17/4/2026).
Ia juga mengingatkan agar masyarakat dengan kemampuan ekonomi tinggi tidak beralih menggunakan LPG subsidi yang memang diperuntukkan bagi kelompok rentan.
“Jadi kalau masa contoh model kayak orang kaya, ya masa orang kaya pendapatannya di atas Rp500 juta per bulan disuruh pakai LPG 3 kilo? Sorry ye,” tegasnya.
Di sisi lain, ia memastikan harga LPG subsidi 3 kilogram tetap tidak berubah. Kebijakan itu disebut sebagai arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Terkait ketersediaan pasokan, Bahlil memastikan kondisi stok LPG secara nasional masih terjaga. Pemerintah bersama sejumlah pemangku kepentingan disebut terus melakukan konsolidasi untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah kebutuhan dalam negeri yang masih bergantung pada impor.
“Sekarang posisi LPG kita di atas standar minimum nasional. Jadi insyaallah clear,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






