KORANMANDALA.COM – Kesulitan kini tengah dihadapi pedagang di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jawa Barat. Selain merasakan dampak melemahnya daya beli dan naiknya harga-harga yang membuat keuntungan makin menipis, pedagang juga mengeluhkan turunnya pembelanja dari kalangan turis asing.
Eni (51), pedagang busana muslim di lantai basement Pasar Baru, menilai kehadiran wisatawan mancanegara saat ini tidak otomatis berdampak pada peningkatan penjualan, karena pola belanja mereka cenderung terpusat di toko-toko tertentu.
Ia mengatakan, turis asing memang masih datang, terutama dari Malaysia, namun sebagian besar berada dalam rombongan dengan pemandu atau agen perjalanan. Kondisi ini membuat distribusi pembeli tidak merata.
PKL Merasa “Ditinggal” dalam Proyek BRT Bandung, Tuntut Dilibatkan Sebelum Dampak Meluas
“Sekarang memang ada sih dari Malaysia. Cuman yang tanpa guide baru kita kebagian,” ujarnya saat ditemui, Senin (20/4/2026).
Menurut Eni, rombongan turis yang menggunakan jasa pemandu biasanya sudah diarahkan ke toko tertentu sejak awal. Pemandu telah menjalin komunikasi dengan pedagang tertentu sebelum rombongan tiba, sehingga begitu datang, wisatawan langsung dibawa ke titik belanja yang sudah ditentukan. Akibatnya, meskipun jumlah turis yang datang cukup banyak, hanya segelintir pedagang yang merasakan dampaknya.
“Jadi walaupun banyak turis Malaysia berapa puluh orang juga, ratusan orang juga, tetap yang kebanjiran pembeli itu toko-toko tertentu,” terangnya.
Ia juga menyoroti peran pemandu yang dinilai memengaruhi keputusan belanja wisatawan. Dalam beberapa situasi, pemandu disebut mengarahkan turis untuk tidak bertransaksi di toko yang mereka singgahi jika bukan bagian dari jaringan yang telah disepakati.
Eni mencontohkan, ketika calon pembeli mulai tertarik, pemandu kerap mengalihkan perhatian atau menawarkan toko lain dengan harga yang disebut lebih murah.
Skema tersebut, menurutnya, berkaitan dengan adanya komisi atau pembagian keuntungan antara pemandu dan toko tertentu. Ia menyebut harga barang di toko yang bekerja sama dengan pemandu bisa lebih tinggi karena sudah memperhitungkan biaya tersebut. Sementara pedagang kecil yang tidak terlibat dalam pola tersebut kesulitan bersaing.
“Kalau pakai guide kita punya untung paling sedikit. Kita mau makan apa?” katanya.
Eni mengaku hanya bisa berharap pada wisatawan yang datang tanpa pemandu. Dalam kondisi itu, ia masih memiliki peluang untuk menawarkan harga yang lebih kompetitif. Namun jumlahnya sangat terbatas. Ia bahkan kerap menanyakan langsung kepada turis apakah datang tanpa pendamping, karena hal tersebut menentukan ruang negosiasi harga.
Ia menilai situasi ini membuat kehadiran turis asing tidak berdampak signifikan bagi sebagian pedagang, khususnya di area basement yang sejak lama relatif lebih sepi dibanding lantai atas. Arus pengunjung yang lebih banyak terkonsentrasi di bagian atas membuat pedagang di bawah kesulitan mendapatkan pembeli.
Eni pun berharap pengelola pasar maupun pemerintah dapat mencari cara untuk meratakan arus pengunjung, khususnya ke lantai basement, agar pedagang kecil tetap memiliki peluang usaha.
“Gimana caranya pengelola pasar atau mungkin pemerintah yang berwenang supaya bisa membantu meramaikan lagi basement seperti dulu, itu aja,” ujarnya.
