KORANMANDALA.COM –Fenomena melemahnya daya beli masyarakat disertai kenaikan harga-harga beberapa waktu terakhir dirasakan betul dampaknya oleh pedagang di Pasar Baru Trade Center, Kota Bandung, Jawa Barat. Eni (51), pedagang busana muslim di Pasar Baru, merasakan penurunan penjualan yang belum juga pulih sejak pandemi Covid-19.
“Kalau saya pribadi merasa penjualan terjun, belum naik-naik semenjak Covid. Mendingan kalau waktu dikurung Covid, orang masih pada punya uang. Kalau sekarang walaupun bebas uang susah,” ujarnya saat dijumpai, Senin (20/4/2026).
Ia menggambarkan perubahan suasana pasar yang kini tidak lagi diiringi aktivitas transaksi yang ramai, terutama di lantai basement tempat ia berdagang. Pengunjung tetap ada, namun cenderung hanya berkeliling dan hanya sedikit yang berujung pembelian.
PKL Merasa “Ditinggal” dalam Proyek BRT Bandung, Tuntut Dilibatkan Sebelum Dampak Meluas
Eni menyebut kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan masa kejayaannya pada tahun 2010-an. Ia memperkirakan penurunan penjualannya kini mencapai sekitar 75 persen. Kondisi itu memaksanya menahan stok dan berjualan dengan barang yang terbatas, menyesuaikan dengan daya serap pasar yang masih stagnan.
“Ada pun mereka nawar itu di bawah modal banget. Dari barang kita jual Rp300 ribu kadang ditawar jadi Rp100-150 ribu. Jadi kemungkinan ekonomi masyarakat juga lagi susah,” tuturnya.
Momentum Ramadan dan Lebaran yang biasanya menjadi periode puncak penjualan pun tidak memberikan dampak signifikan tahun ini. Meski ada peningkatan dibanding hari biasa, intensitasnya jauh tertinggal dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Eni mengungkapkan, fase awal Ramadan yang dulu hanya sepi beberapa hari kini terasa lebih panjang tanpa lonjakan pengunjung yang berarti.
“Puasa kemarin nggak ada hentakan, pembeli yang signifikan juga nggak ada, biasa-biasa aja. Biasanya kalau sepi itu di 4 hari pertama puasa. Sekarang seminggu pertama orang tuh kayak Syawal aja, pengunjungnya nggak ada,” ucapnya.
Di tengah kondisi penjualan yang masih lemah, Eni juga kini dihadapkan pada kenaikan biaya-biaya dari konveksi, terutama untuk plastik kemasan yang harganya sedang melambung. Ia menjelaskan, biaya kemasan plastik yang sebelumnya tidak diperhitungkan kini menjadi komponen biaya tambahan dengan besaran Rp2.500 hingga Rp5.000 per item.
Sementara itu, konsumen cenderung menginginkan harga tetap, sehingga ruang keuntungannya semakin tergerus.
“Kalau enggak, pindah ke yang lain. Otomatis keuntungan kita semakin berkurang,” imbuhnya.
Eni yang telah berdagang di Pasar Baru sejak 1997, melihat kondisi ini sebagai perubahan panjang yang belum menemukan titik balik. Ia berharap pengelola pasar maupun pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk menghidupkan kembali aktivitas di Pasar Baru, terutama di lantai basement yang kini jauh lebih sepi. Baginya, keberlanjutan usaha kecil di pasar tradisional sangat bergantung pada arus pengunjung yang merata di setiap lantai.
“Gimana caranya pengelola pasar atau mungkin pemerintah yang berwenang supaya bisa membantu meramaikan lagi basement seperti dulu, itu aja,” ujarnya.
Dirasakan Hampir Semua Pedagang
Kondisi yang dirasakan Eni diamini oleh Ketua Himpunan Pedagang Pasar Baru (HP2B), Iwan Suhermawan. Ia menilai, sepinya pembeli tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan dirasakan hampir oleh seluruh pedagang di Pasar Baru.
Menurutnya, tekanan terhadap pedagang tidak lepas dari situasi ekonomi yang sedang berlangsung.
“Semua sedang mengalami kesulitan konsumen, karena negara kita sedang terjadi deflasi sehingga terjadi juga penurunan daya beli sehingga kan berakibat kepada pedagang yang jadi sepi pembeli,” tutur Iwan.
Di sisi lain, Iwan melihat adanya perubahan perilaku belanja yang cukup drastis dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya pembelian pakaian identik dengan momen tertentu, kini pola tersebut bergeser.
“Memang ada perubahan kebiasaan belanja. Jadi dulu mah beli baju tuh kita setahun sekali sama orang tua. Sekarang mah kan engga, setiap waktu kapan saja bisa beli via online. Jadi sudah ada perubahan yang dramatis dari perilaku pembeli,” pungkasnya.
