ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Jalan Desa Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, berubah menjadi pusat keramaian setiap Minggu pagi. Ruas jalan tersebut dipadati lapak pedagang dan aktivitas warga dalam fenomena pasar kaget yang rutin digelar sepekan sekali.
Berdasarkan pantauan Koranmandala.com, Minggu (12/4/2026), aktivitas pasar sudah mulai terlihat sejak pukul 06.00 WIB. Pedagang menggelar lapak di sepanjang bahu jalan, sementara warga memadati bagian tengah untuk berbelanja maupun sekadar menikmati suasana pagi.
Beragam komoditas ditawarkan, mulai dari kuliner, bahan pokok, pakaian, hingga perlengkapan rumah tangga. Kondisi ini menjadikan pasar kaget Cipadung sebagai salah satu titik perputaran ekonomi informal yang cukup hidup di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
Kemenkes Evaluasi Insiden Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung
Tak hanya menjadi tempat transaksi, pasar ini juga dimanfaatkan warga sebagai ruang sosial. Salah seorang pengunjung, Wisnu (31), mengaku rutin datang bersama keluarga untuk berolahraga sambil berkeliling pasar.
“Tidak ada barang khusus yang dicari, sekalian jalan pagi. Kalau ada yang menarik baru dibeli,” ujar Wisnu.
Menurutnya, pasar kaget memberikan alternatif aktivitas akhir pekan yang mudah dijangkau, sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarwarga.
“Sering ketemu tetangga atau teman lama, jadi bisa sekalian bersosialisasi,” katanya.
Di sisi lain, para pedagang memanfaatkan tingginya mobilitas warga pada pagi hari untuk meraup keuntungan. Salah seorang pedagang jajanan, Dedeh (43), menyebut aktivitas jual beli biasanya berlangsung hingga menjelang siang.
Ia mengaku mulai berjualan sejak subuh dan menutup lapak sekitar pukul 11.00 hingga 12.00 WIB, seiring menurunnya jumlah pengunjung.
“Kalau sudah siang mulai sepi, jadi biasanya sambil beres-beres,” ujarnya.
Meski berlangsung dalam waktu terbatas, Dedeh menilai pasar kaget cukup membantu menambah penghasilan keluarga.
“Tidak banyak, tapi lumayan untuk tambahan kebutuhan rumah tangga,” katanya.
Aktivitas yang berulang setiap pekan ini membentuk ritme tersendiri, baik bagi pedagang maupun pengunjung. Dalam waktu singkat, ruang jalan bertransformasi menjadi pusat ekonomi sekaligus ruang interaksi sosial yang hidup di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






