ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Ambisi Pemerintah Kota Bandung menuntaskan persoalan sampah melalui program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah) belum sepenuhnya berjalan mulus. Di lapangan, program ini masih terseok-seok menghadapi persoalan klasik: keterbatasan lahan.
Situasi ini tergambar jelas di Kelurahan Kebon Jayanti, Kecamatan Kiaracondong. Wilayah padat penduduk tersebut nyaris tak memiliki ruang untuk fasilitas pengolahan sampah. Namun di tengah keterbatasan, program tetap dipaksakan berjalan.
Lurah Kebon Jayanti, Wiwin Haryani, mengakui sejak awal Gaslah sudah dihadapkan pada persoalan mendasar. Mayoritas lahan di wilayahnya bukan milik pemerintah kota.
ADVERTISEMENT
Gaslah Dipertanyakan, Muhamad Syahlevi Nilai Program Pengelolaan Sampah Belum Siap Jadi Solusi
“Kita sangat minim lahan. Sebagian besar ini milik PT KAI dan PT Pindad. Lahan Pemkot hampir tidak ada, paling hanya untuk fasilitas umum dan kantor RW, tidak bisa dipakai pengolahan sampah,” ujar Wiwin, Kamis (9/4/2026).
Kondisi tersebut memaksa pengelolaan sampah bergantung pada izin pihak ketiga. Saat ini, pengolahan hanya mengandalkan dua rumah maggot.
Satu berada di RW 02 dengan memanfaatkan lahan milik PT KAI yang belum digunakan. Sementara satu lagi di RW 12 berdiri di atas lahan Perumda Pasar Juara melalui skema kerja sama.
Namun, ketergantungan ini menyimpan risiko. Keberadaan fasilitas pengolahan tidak memiliki kepastian jangka panjang.
“Yang agak permanen di RW 12 karena sudah ada MoU. Tapi yang di RW 02 bisa saja pindah kalau sewaktu-waktu lahannya diminta kembali,” katanya.
Minimnya ruang membuat pengolahan sampah hanya bisa dilakukan dalam skala terbatas. Rumah maggot yang tersedia hanya berukuran 25–30 meter persegi, jauh dari standar ideal Pemkot Bandung yang mencapai minimal 100 meter persegi.
“Makanya kita ambil yang skala plasma, karena memang tidak punya lahan besar,” ujar Wiwin.
Meski serba terbatas, aktivitas tetap berjalan. Setiap hari, petugas Gaslah di 14 RW mampu mengangkut 250 hingga 300 kilogram sampah rumah tangga. Dari jumlah itu, sekitar 150–200 kilogram berhasil diolah menjadi pakan maggot.
“Saya minta program ini tetap jalan. Jadi dipaksakan, walaupun lahannya sedikit, jangan sampai berhenti,” tegasnya.
Di tingkat warga, program ini tak langsung mendapat sambutan positif. Ketua RW 04 Kebon Jayanti, Yayah, mengungkapkan awalnya banyak keraguan.
“Dulu sempat pro kontra. Banyak yang bilang program ini tidak akan jalan di daerah padat seperti ini,” kata Yayah.
Namun seiring waktu, konsistensi petugas mulai mengubah persepsi warga. Penanganan sampah yang lebih teratur membuat kepercayaan perlahan tumbuh.
Untuk memperkuat program, kelurahan juga berencana menambah sarana pendukung berupa ember sampah di tiap RW.
“Ada rencana bantuan 30 ember per RW. Nanti titik-titik sampah jadi lebih tertib dan tidak tercecer,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






