KORANMANDALA.COM – Momen lebaran Idulfitri membawa berkah tersendiri bagi para pedagang kembang di kawasan Tempat Pemakaman Umum (TPU) Cikutra, Kota Bandung. Seiring meningkatnya aktivitas ziarah di hari raya, mereka mampu meraup keuntungan berkali-kali lipat lebih tinggi dari hari biasanya.
Salah satu pedagang, Penti Susilawati (60), mengaku merasakan lonjakan pendapatan yang signifikan dibanding hari biasa. Peningkatan tersebut dirasakan khususnya pada hari H dan H+1 lebaran, di mana banyak masyarakat menjalankan tradisi ziarah makam selepas salat Idulfitri atau setelah bersilaturahmi dengan keluarga.
“Omzet naik bisa tiga sampai empat kali lipat dibanding momen-momen biasa,” ujarnya saat ditemui di sela-sela melayani pembeli, Minggu (22/3/2026).
Ia mengatakan, tren peningkatan ini juga dirasakan jelang memasuki bulan Ramadan lalu. Hal ini terjadi saat masyarakat menjalankan tradisi menyambut bulan Ramadan atau ‘munggahan’, salah satunya dengan berziarah ke makam saudara, orang tua atau leluhur.
“Munggahan dan lebaran biasanya itu dua momen ramai pembeli,” katanya.
Terdapat 2 jenis kembang yang dijual Penti untuk para peziarah, yakni kembang tabur berisi aneka macam kembang seharga Rp10 ribu per kantong dan kembang tangkai yang dijual Rp20-25 ribu per tangkai. Menurutnya, kembang tabur saat ini jadi yang paling banyak diminati karena harganya yang lebih terjangkau.
Penti menyebut, kembang-kembang yang dijualnya dipasok langsung dari kawasan Lembang, Kab. Bandung Barat.
“Barang dari Lembang, sekarang juga lagi nunggu kiriman,” tuturnya.
Senada dengan Penti, Siti Solihat (58), seorang pedagang kembang harian di area TPU Cikutra juga merasakan adanya tambahan rezeki di momen Idulfitri. Meski menurutnya peningkatan yang dirasakan tidak terlalu drastis, ia tetap bersyukur dengan kondisi tersebut.
“Ada peningkatan pendapatan dua kali lipat, sedikit-sedikit lumayan daripada nggak ada,” ujarnya.
Di lapaknya, Siti menjajakan jenis kembang tabur dan kembang tangkai seperti mawar dan melati dengan harga bervariasi. Pada momen-momen tertentu, ia juga terkadang menerima tawaran negosiasi harga dari pembeli.
“Kembang tabur Rp5 ribu per bungkus, kalau tangkaian Rp25 ribu, kadang ada yang nawarin Rp15 ribu atau Rp20 ribu ya dikasih, yang penting beda sedikit-sedikit,” ungkapnya.
Tahun Lalu Lebih Ramai
Meski merasakan kenaikan omzet dari hari biasa, kedua pedagang ini sepakat bahwa penjualan tahun ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan Lebaran tahun lalu.
Penti menyebut bahwa kenaikan harga jadi salah satu pemicu turunnya penjualan. Hal ini terjadi karena terdapat kendala pada pasokan barang yang diterima, sehingga ia harus menaikkan harga.
“Dibanding lebaran tahun lalu agak kurang, karena kiriman barang kurang jadi harga melonjak,” tuturnya.
Sementara itu, Siti menduga penurunan ini terjadi karena pola kedatangan pemudik yang belum merata. Ia masih menunggu momentum kedatangan pemudik dari luar kota pada hari ketiga dan keempat lebaran.
“Mendingan tahun lalu, karena mungkin itu sebagiannya untuk hari pertama sama kedua masih pada mudik, belum pada datang yang jauh-jauhnya,” katanya.
