ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di tengah ramainya aktivitas jual beli kebutuhan Lebaran di kawasan Pasar Kosambi, Kota Bandung, terdapat kisah perjuangan seorang perantau yang tetap bertahan demi mengais rezeki. Ia adalah Asep (49), penjual ketupat yang setia menjajakan dagangannya di sudut jalan dekat pasar.
Dengan pakaian serba hitam, Asep tampak tekun menganyam daun kelapa menjadi ketupat. Jemarinya bergerak lincah, merangkai helai demi helai daun hingga membentuk anyaman rapi yang siap dijual kepada pembeli.
Asep mengaku telah menekuni keterampilan tersebut sejak remaja. Setiap menjelang Hari Raya Idulfitri, ia rutin datang dari kampung halamannya di Cikalong untuk berjualan ketupat di Kota Bandung.
ADVERTISEMENT
DLH Kota Bandung Terjunkan 211 Petugas Kebersihan Saat Lebaran 1447 H
“Dari daun kelapa terus dianyam sendiri. Sudah dari SMP saya begini, tiap mau Lebaran jualan ketupat,” ujar Asep saat ditemui, Kamis (19/3/2026).
Ia menjual ketupat dalam berbagai ukuran. Untuk ukuran kecil dibanderol Rp15 ribu per 10 buah, sementara ukuran besar Rp20 ribu per 10 buah. Selain itu, Asep juga menyediakan daun kelapa mentah bagi pembeli yang ingin menganyam sendiri, dengan harga Rp600 per helai.
“Yang kecil Rp15 ribu isi 10, yang besar Rp20 ribu. Kalau daun saja Rp600 selembar,” jelasnya.
Tahun ini, Asep membawa sekitar 2.000 helai daun kelapa dari kampungnya. Ia berharap seluruh dagangannya dapat terjual habis menjelang Lebaran.
Namun, perjuangannya tidak mudah. Sejak sehari sebelumnya, Asep sudah berada di lokasi dan belum kembali ke rumah. Ia memilih bertahan di sekitar pasar, bahkan tidur di emperan demi menjaga dagangannya.
“Dari kemarin sore sudah di sini, belum pulang. Tidur di sini saja sambil nunggu dagangan,” katanya.
Asep mengungkapkan, penjualan tahun ini cenderung menurun dibandingkan Lebaran sebelumnya. Biasanya, dagangannya sudah habis lebih cepat saat mendekati hari raya.
“Kalau Lebaran kemarin, jam segini sudah pulang karena dagangan habis. Sekarang agak sepi,” ungkapnya.
Meski demikian, semangatnya tak surut. Sebagai kepala keluarga dengan empat anak, Asep tetap berjuang demi memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kisah Asep menjadi potret ketekunan di tengah hiruk-pikuk kota. Dari anyaman daun kelapa yang sederhana, ia menaruh harapan untuk menyambut Lebaran dengan lebih baik.
“Semoga makin laris,” ucapnya singkat.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






