KORANMANDALA.COM – Fenomena tawuran antar pelajar yang masih kerap terjadi menjadi sorotan serius. Psikolog dari Universitas Padjadjaran, Fitriani Y. Lubis, mengungkap bahwa perilaku agresif remaja bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil akumulasi berbagai faktor, mulai dari pencarian jati diri hingga pengaruh media sosial.
Menurut Fitriani, remaja berada dalam fase krusial pencarian identitas, di mana pengakuan dari kelompok sebaya menjadi hal yang sangat penting. Dalam kondisi ini, mereka kerap rela melakukan tindakan ekstrem demi diterima di lingkungannya.
“Pengakuan dari teman-teman sebaya itu seringkali jauh lebih berharga bagi remaja dibandingkan pengakuan dari pihak lain,” ujarnya saat dihubungi, Senin (16/3/2026).
KDM: Anggaran THR P3K Jabar Rp60,8 Miliar Tersedia, Tertahan Aturan Pusat
Secara biologis, perilaku impulsif remaja juga dipengaruhi oleh perkembangan otak yang belum sempurna, khususnya pada bagian prefrontal cortex—pusat pengambilan keputusan dan kontrol diri.
“Untuk bisa membuat keputusan yang matang, bagian ini harus sudah berkembang. Pada remaja, kondisinya masih belum optimal, sehingga keputusan yang diambil cenderung jangka pendek,” jelasnya.
Akibatnya, remaja sering kali mengabaikan risiko jangka panjang, seperti konsekuensi hukum atau ancaman keselamatan.
Selain faktor biologis, kondisi emosi remaja yang masih labil membuat mereka mudah terpengaruh lingkungan sekitar. Dalam banyak kasus, tawuran dipicu oleh hal-hal sepele yang berkembang menjadi konflik besar.
“Mereka sangat mudah terstimulasi. Sedikit provokasi dari teman bisa langsung memicu reaksi emosional,” katanya.
Di era digital, media sosial turut memperbesar potensi konflik. Konten berupa sindiran atau ejekan—yang mungkin dianggap bercanda—bisa ditafsirkan sebagai serangan serius oleh remaja.
“Media sosial menjadi stimulus tambahan. Anak yang sudah mudah terpancing emosi jadi semakin reaktif ketika ada provokasi di dunia maya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti risiko kesalahpahaman dari komunikasi berbasis teks yang tidak memiliki nada emosi, sehingga mudah disalahartikan.
“Pesan teks itu netral, tapi cara orang menafsirkan bisa berbeda-beda. Ini sering memicu konflik baru,” tambahnya.
Fitriani menyebut, paparan terhadap konten kekerasan juga berkontribusi terhadap meningkatnya agresivitas remaja. Berdasarkan riset, kelompok yang sering terpapar konten agresif cenderung memiliki reaksi yang lebih keras dibandingkan yang tidak.
Untuk menekan potensi tawuran, Fitriani menekankan pentingnya mengarahkan energi remaja ke kegiatan positif sekaligus melatih pengendalian emosi.
“Remaja perlu disibukkan dengan aktivitas yang konstruktif agar tidak memiliki ruang untuk menyalurkan emosi negatif,” tegasnya.
Ia juga menilai pengawasan orang tua dan guru saja tidak cukup. Intervensi pada karakter dan kemampuan regulasi emosi menjadi kunci utama pencegahan.
“Remaja perlu belajar mengenali dirinya, menahan reaksi impulsif, dan berpikir sebelum bertindak,” ujarnya.
Fitriani menambahkan, sistem pendidikan saat ini masih terlalu fokus pada aspek akademik dan belum optimal dalam membangun kecerdasan emosional siswa.
“Pendidikan tidak cukup hanya akademik. Kemampuan mengelola emosi dan konflik harus diperkuat agar remaja lebih siap menghadapi tekanan sosial,” pungkasnya.
