KORANMANDALA.COM – Menjelang Hari Raya Idulfitri, kawasan Pasar Baru Bandung selalu dipadati warga yang berburu uang baru untuk kebutuhan Tunjangan Hari Raya (THR). Namun di tengah keramaian tersebut, seorang pria paruh baya tampak duduk sederhana di tepi jalan, menata lembar demi lembar uang lama di hadapannya.
Dialah Salim (49). Selama hampir tiga dekade, ia menggantungkan hidup dari jual beli uang lama, uang asing, hingga uang rusak—sebuah profesi yang bagi sebagian orang tampak sederhana, tetapi baginya sarat nilai sejarah.
Berawal dari Hobi Masa Kecil
Perjalanan Salim di dunia koleksi uang bermula dari kegemarannya mengumpulkan uang sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dari sekadar hobi, ketertarikan itu perlahan berubah menjadi jalan hidup.
“Pertamanya dari saya kecil, sejak SD suka mengoleksi. Jadi suka nyari-nyari uang buat koleksi. Lama-lama ngumpulin. Dulu belinya juga masih murah, dari Rp1.000 sampai puluhan ribu. Sampai akhirnya tahun 1997 saya mulai jualan,” ujar Salim saat ditemui di kawasan Pasar Baru Bandung, Sabtu (14/3/2026).
Sejak saat itu, ia mulai membeli dan menjual kembali uang koleksi. Kini, hampir 29 tahun ia bertahan di profesi tersebut.
“Dari tahun ’97 berarti sudah sekitar 29 tahun. Jual beli uang lama, uang asing, uang rusak, dari dalam sampai luar negeri,” katanya.
Menyimpan Jejak Sejarah di Setiap Lembar Uang
Di lapak kecilnya, berbagai uang lama tersusun rapi. Mulai dari uang sen keluaran awal kemerdekaan hingga pecahan rupiah yang sudah lama tidak beredar.
Ia menunjukkan beberapa koin kuno yang menurutnya menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia.
“Kalau yang paling awal itu dari 1 sen, 5 sen, 10 sen sampai 50 sen. Itu uang pertama Indonesia setelah kemerdekaan,” ujarnya.
Bagi sebagian orang, uang-uang tersebut mungkin hanya benda kuno. Namun bagi kolektor, nilainya bisa jauh melampaui angka yang tertera di atasnya.
Menurut Salim, harga uang lama sangat dipengaruhi oleh tahun terbit, kelangkaan, serta kondisi fisik uang tersebut.
“Misalnya uang Rp50.000 ini, walaupun nominalnya besar tapi bisa dijual di bawah nominal, sekitar Rp40.000. Tapi kalau yang bergambar Soeharto bisa di atas nominal,” katanya.
Ia bahkan pernah menjual satu lembar uang koleksi dengan harga yang cukup fantastis.
“Pernah ada yang sampai Rp2 juta. Itu pecahan Rp10.000 tahun 1975 sama yang bergambar Jenderal Sudirman tahun 1968. Kondisinya masih baru sekali, istilahnya UNC, belum pernah dipakai,” ujarnya.
Tergerus Pasar Daring
Meski memiliki nilai sejarah dan koleksi, usaha jual beli uang lama kini tidak lagi seramai dulu. Salim mengaku kehadiran pasar daring membuat transaksi koleksi lebih banyak berpindah ke dunia digital.
Akibatnya, pendapatan pedagang konvensional seperti dirinya mengalami penurunan drastis.
“Sekarang beda jauh, bisa turun sampai 70 persen. Kalau dulu lumayan ramai, sekarang jarang,” katanya.
Di kawasan Pasar Baru Bandung sendiri, jumlah pedagang uang lama yang bertahan kini bisa dihitung dengan jari.
“Sekarang paling ada enam orang yang masih jualan seperti ini. Dulu mah banyak,” ujarnya.
Menjaga Sejarah di Tengah Perubahan Zaman
Meski penghasilannya menurun, Salim memilih tetap bertahan. Baginya, uang lama bukan sekadar barang koleksi, tetapi bagian dari sejarah bangsa yang layak dilestarikan.
“Ini bukan cuma koleksi, tapi juga melestarikan sejarah kita. Nilai sejarahnya tinggi. Jangan sampai punah,” katanya.
Ia juga melihat koleksi uang lama sebagai salah satu bentuk investasi bagi para penggemarnya.
“Kalau sekarang harganya Rp10.000 misalnya, beberapa tahun lagi bisa naik. Jadi selain koleksi, bisa juga untuk investasi,” ujarnya.
Di tengah hiruk pikuk warga yang menukar uang baru untuk Lebaran, Salim justru mengingatkan agar masyarakat tidak melupakan nilai uang lama yang menyimpan jejak perjalanan bangsa.
“Mudah-mudahan ada peminat baru yang mau mengoleksi. Jangan sampai uang lama kita punah,” ucapnya.
Di tepi jalan Pasar Baru Bandung, Salim kembali menata lembaran uang di lapaknya. Bagi pria yang telah 29 tahun menjaga koleksi rupiah lawas itu, setiap lembar uang bukan sekadar kertas usang—melainkan cerita panjang tentang waktu, sejarah, dan ketekunan hidup.
