KORANMANDALA.COM – Menjelang Hari Raya Idulfitri, trotoar di kawasan Jalan Wastukencana hingga Jalan Merdeka berubah menjadi lapak darurat penukaran uang baru. Puluhan orang berdiri berjejer di pinggir jalan, mengangkat plastik berisi uang berbagai pecahan sambil memanggil pengendara yang melintas.
Fenomena ini bukan hal baru di Kota Bandung. Setiap Ramadan, terutama memasuki dua pekan terakhir menjelang Lebaran, jasa penukaran uang baru bermunculan di berbagai sudut kota. Namun di balik aktivitas tersebut, ada rantai pasok yang jarang diketahui publik.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, sebagian besar uang baru yang ditawarkan para penjual bukan berasal dari penukaran langsung di bank. Mereka mendapatkannya dari pihak ketiga yang disebut sebagai “bos” atau “bandar”.
Pian (39), salah satu pelaku jasa tukar uang musiman, mengungkapkan bahwa dirinya hanya berperan sebagai penjual di lapangan.
“Ini uangnya uang bos, kita cuma jualin saja,” kata Pian saat ditemui Rabu (11/3/2026).
Dimulai dari Bandar
Pian menjelaskan, sebelum turun ke jalan, para penjual biasanya terlebih dahulu mengambil stok uang baru dari bandar. Bandar tersebut menyediakan berbagai pecahan uang, mulai dari Rp2 ribu hingga Rp20 ribu yang paling banyak dicari masyarakat.
Setelah menerima stok, para penjual kemudian menentukan harga jual sendiri di lapangan. Keuntungan mereka berasal dari selisih harga antara harga yang diberikan bandar dengan harga yang dibayarkan konsumen.
Sebagai contoh, untuk pecahan Rp10 ribu, bandar biasanya mematok harga sekitar Rp12 ribu hingga Rp13 ribu per lembar. Para penjual kemudian menaikkan harga tersebut menjadi sekitar Rp15 ribu saat dijual kepada masyarakat.
“Misalnya kita dapat harga Rp12 ribu dari bos, terus dijual Rp15 ribu. Selisihnya Rp2 ribu atau Rp3 ribu itu buat kita,” ujar Pian.
Menurutnya, besar kecilnya keuntungan bergantung pada kepiawaian penjual dalam menentukan harga. Tidak ada tarif baku yang mengatur jasa penukaran uang di pinggir jalan tersebut.
Persaingan Antar Penjual
Di sepanjang trotoar kawasan pusat kota, para penjual biasanya berdiri berdekatan satu sama lain. Kondisi ini menciptakan persaingan harga secara tidak langsung.
Jika satu penjual mematok tarif terlalu tinggi, calon pembeli bisa dengan mudah berpindah ke penjual lain yang menawarkan harga lebih murah.
“Makanya kita harus pintar-pintar. Kalau terlalu mahal, pembeli pindah ke sebelah,” kata Pian.
Ia sendiri mengaku sudah menjalani pekerjaan musiman ini selama sembilan tahun. Setiap Ramadan, ia mulai berjualan beberapa minggu sebelum Lebaran hingga malam takbiran.
Lokasi jualan pun tidak selalu tetap. Para penjual sering berpindah tempat mengikuti titik keramaian yang dianggap potensial mendatangkan pembeli.
Akses Bank Dinilai Sulit
Santi (55), penjual jasa tukar uang lainnya, juga mengaku mendapatkan stok uang baru dari bandar. Ia mengatakan langkah itu terpaksa dilakukan karena sulitnya memperoleh uang baru langsung dari bank.
“Kita ambil dari bandar. Kalau tukar di bank sering tidak dapat,” kata Santi.
Menurutnya, bandar biasanya mengambil keuntungan sekitar 2 hingga 3 persen dari nilai uang yang dijual kepada para penjual lapangan. Setelah itu, penjual kembali menambahkan margin saat menjual kepada masyarakat.
“Kalau saya paling ambil sekitar 5 persen saja,” ujarnya.
Santi juga mengaku baru memulai berjualan pada Ramadan tahun ini. Ia berharap meningkatnya kebutuhan masyarakat akan uang baru menjelang Lebaran bisa menjadi peluang tambahan penghasilan.
Tradisi Lebaran yang Menggerakkan Ekonomi Jalanan
Kebutuhan masyarakat akan uang pecahan baru memang selalu meningkat menjelang Lebaran. Uang tersebut biasanya digunakan untuk tradisi berbagi kepada anak-anak atau kerabat saat Hari Raya.
Kondisi inilah yang kemudian menciptakan ruang ekonomi musiman di trotoar-trotoar kota. Para penjual jasa tukar uang memanfaatkan momen tersebut untuk meraup keuntungan dari selisih harga, sementara masyarakat mendapatkan kemudahan memperoleh uang pecahan baru tanpa harus antre di bank.
Meski berada di sektor informal, praktik ini terus berulang setiap tahun dan menjadi bagian dari dinamika ekonomi jalanan saat Ramadan di Kota Bandung.
