KORANMANDALA.COM – Ratusan relawan dari berbagai komunitas kemanusiaan mengikuti acara silaturahmi dan buka bersama relawan serta potensi pencarian dan pertolongan se-Jawa Barat, Jabodetabek, dan Banten yang digelar di Gedung Taman Pramuka, Kota Bandung, Sabtu (7/3/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Saat Bencana Terjadi Relawan Tidak Pernah Absen, Kolaborasi Masih Kita Cari.” Acara ini menjadi ajang mempererat koordinasi antar relawan, lembaga pemerintah, dan berbagai komunitas yang selama ini terlibat dalam penanggulangan bencana.
Sejumlah narasumber hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Direktur Bina Potensi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Agus Haryono, Fungsional Analis Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Barat Ebet Nugraha, Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian Permana, serta praktisi manajemen kebencanaan Bayu Tresna.
Basarnas Dorong Pembinaan Potensi SAR, Relawan Terlatih Diprioritaskan dalam Operasi Penyelamatan
Direktur Bina Potensi Basarnas Agus Haryono menekankan pentingnya peran potensi SAR dalam setiap penyelenggaraan operasi pencarian dan pertolongan. Menurutnya, keberhasilan operasi SAR sangat bergantung pada kolaborasi antara berbagai unsur yang terlibat.
“Peran potensi SAR dalam penyelenggaraan operasi SAR sangat penting. Kesiapsiagaan yang kita bangun bersama di Kota Bandung dan Jawa Barat ini menjadi bentuk kolaborasi yang nyata ketika operasi SAR dilaksanakan,” ujar Agus.
Ia mencontohkan kolaborasi tersebut terlihat dalam berbagai operasi pencarian dan pertolongan di Jawa Barat, termasuk dalam penanganan bencana di kawasan Cisarua.
“Dalam operasi SAR kita selalu berkolaborasi, saling membantu dan saling mengisi peran. Di situlah nilai plus dari kekuatan Indonesia. Kolaborasi ini harus terus kita pupuk sampai menjadi solid, kompak, dan penuh solidaritas,” katanya.
Agus menambahkan bahwa peningkatan kapasitas relawan menjadi salah satu kunci dalam mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
“Mitigasi dan pencegahan harus diperkuat dengan kesiapsiagaan. Salah satunya melalui peningkatan kapasitas lewat pelatihan dan kegiatan seperti silaturahmi ini agar kolaborasi di lapangan semakin kuat,” ujarnya.
Sementara itu, Analis Kebencanaan BPBD Jawa Barat Ebet Nugraha menyoroti pentingnya peran relawan dalam manajemen penanggulangan bencana. Ia menilai relawan memiliki kontribusi besar, terutama dalam fase pra-bencana hingga pascabencana.
“Penyelamatan itu aktivitas yang sangat mulia. Di lapangan relawan selalu hadir ketika situasi semakin sulit dan tim SAR bekerja,” kata Ebet.
Namun ia menegaskan bahwa relawan tidak boleh hanya dianggap sebagai tenaga tambahan di lapangan, melainkan harus dibekali kemampuan dan pengetahuan yang memadai.
“Relawan bukan tenaga kasar. Mereka harus memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam kebencanaan,” ujarnya.
Menurut Ebet, relawan memiliki peran penting pada fase pra-bencana, seperti melakukan mitigasi non-struktural, identifikasi data risiko, hingga meningkatkan kapasitas masyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan dan pemahaman tugas di lapangan.
“Kalau semua orang turun ke lapangan tanpa tahu apa yang harus dilakukan, itu bisa berbahaya. Bahkan bisa menimbulkan korban,” katanya.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa dalam penanggulangan bencana terdapat beberapa tahapan penting, mulai dari fase tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat terdampak.
Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian Permana menjelaskan bahwa pelibatan potensi SAR menjadi bagian penting dalam setiap operasi pencarian dan pertolongan.
Ia mencontohkan operasi SAR di kawasan Cisarua yang melibatkan banyak unsur relawan dan lembaga terkait.
“Dalam operasi SAR kita selalu mengedepankan prinsip komunikasi, kolaborasi, sinergi, dan solidaritas,” kata Ade.
Ia menyebut dalam operasi tersebut ribuan relawan sempat terdaftar, namun tidak semuanya berada langsung di lapangan karena setiap operasi memiliki struktur organisasi dan pembagian tugas.
“Kita mencatat sekitar 4.000 potensi yang terdaftar di posko Basarnas, tetapi yang benar-benar bekerja di lapangan sekitar 100 sampai 200 orang karena ada pembagian klaster seperti pencarian, logistik, dan kesehatan,” jelasnya.
Ade menambahkan bahwa pendataan potensi SAR menjadi penting untuk memastikan setiap personel yang terlibat memiliki kompetensi sesuai kebutuhan operasi.
“Kompetensi harus jelas. Kita harus mendata potensi dari berbagai kementerian, lembaga, dan komunitas agar pelibatan di lapangan bisa tepat,” ujarnya.
Sementara itu, praktisi manajemen kebencanaan Bayu Tresna menilai kolaborasi menjadi kunci utama dalam optimalisasi penanggulangan bencana di era saat ini.
Menurutnya, saat ini masyarakat berada di era ekosistem terbuka yang memungkinkan berbagai pihak bekerja bersama tanpa batasan yang kaku.
“Kita sekarang berada di era ekosistem terbuka. Artinya semua pihak bisa bekerja bersama, dan kolaborasi menjadi bagian paling penting dalam penanggulangan bencana,” kata Bayu.
Ia menilai nilai-nilai budaya lokal seperti gotong royong menjadi kekuatan besar yang dimiliki masyarakat Indonesia dalam menghadapi bencana.
“Budaya lokal kita sangat kuat. Gotong royong itu sebenarnya sudah menjadi kekuatan leluhur kita dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk bencana,” ujarnya.
Bayu juga menekankan pentingnya optimalisasi mitigasi dan respons darurat dalam manajemen kebencanaan.
“Mitigasi dilakukan melalui edukasi dan sosialisasi agar masyarakat memiliki kesadaran terhadap risiko bencana. Sementara dalam kondisi darurat kita harus bergerak cepat karena ada masa yang disebut golden time dalam penyelamatan,” katanya.
Melalui kegiatan ini, para peserta berharap kolaborasi antara relawan, pemerintah, dan berbagai lembaga kemanusiaan dapat semakin kuat sehingga penanganan bencana di Indonesia dapat berjalan lebih efektif dan terkoordinasi.
