KORANMANDALA.COM – Ketua Umum Gadamusa, Darmanto, menegaskan relawan selalu berada di garis terdepan ketika bencana terjadi. Namun, menurutnya, peran relawan kerap kurang mendapatkan perhatian dalam berbagai kegiatan resmi.
Hal tersebut disampaikan Darmanto saat menghadiri kegiatan silaturahmi dan buka bersama relawan serta potensi pencarian dan pertolongan dari wilayah Jawa Barat, Jabodetabek, dan Banten di Gedung Taman Pramuka, Bandung, Sabtu (7/3/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri berbagai komunitas relawan yang bergerak di bidang kemanusiaan, pencarian dan pertolongan, layanan ambulans, hingga dapur umum.
Polresta Bandung Cek Jalur Cileunyi–Nagreg Jelang Operasi Ketupat Lodaya 2026
Menurut Darmanto, jaringan relawan yang tergabung dalam komunitasnya memiliki berbagai fasilitas layanan kemanusiaan, termasuk ambulans gratis yang digunakan untuk membantu masyarakat.
“Di dalamnya ada beberapa komunitas relawan, termasuk tim ambulans. Kita juga memfasilitasi ambulans gratis. Dalam satu bulan bisa sekitar 150 orang yang kami bantu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan silaturahmi tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi antarrelawan dari berbagai komunitas yang selama ini bekerja secara mandiri di lapangan.
Darmanto mengatakan tema kegiatan sengaja diangkat untuk menyoroti peran relawan yang selalu hadir saat bencana terjadi.
“Makanya saya buat temanya relawan tidak pernah absen saat bencana terjadi, tetapi kolaborasi masih dicari. Karena ketika terjadi bencana, relawan biasanya berada paling depan,” katanya.
Namun ia menilai situasi berbeda sering terjadi ketika pejabat negara atau tokoh penting datang meninjau lokasi bencana. Dalam kondisi tersebut, relawan kerap tidak dilibatkan secara langsung.
“Tapi saat ada presiden atau pejabat tinggi datang, relawan sering hanya berada di pinggir. Yang tampil biasanya mereka yang berseragam,” ujarnya.
Karena itu, Darmanto berharap relawan yang selama ini bekerja langsung di lapangan mendapat apresiasi yang lebih besar dari berbagai pihak, termasuk pemerintah.
“Saya ingin mengangkat ini supaya mereka dihargai. Karena mereka benar-benar bertugas di lapangan saat bencana terjadi,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya koordinasi dalam pengelolaan dapur umum saat bencana. Menurutnya, relawan di Jawa Barat memiliki kapasitas yang cukup kuat untuk menyediakan kebutuhan logistik bagi korban.
Ia mencontohkan kegiatan silaturahmi dan buka bersama tersebut sepenuhnya diselenggarakan oleh relawan tanpa menggunakan anggaran khusus.
“Relawan Jawa Barat itu kuat. Acara ini kita adakan dengan biaya nol rupiah. Relawan punya dapur umum, tim medis, ambulans, bahkan ada tim ojek relawan. Semuanya ada, tinggal disatukan saja,” ujarnya.
Darmanto menambahkan peran instansi pemerintah tetap penting dalam mengoordinasikan berbagai potensi relawan yang ada. Setiap klaster relawan, kata dia, dapat bekerja sama dengan lembaga terkait sesuai bidangnya.
Misalnya, dapur umum dapat berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, sementara tim penyelamatan mengikuti standar operasional dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan.
“Kalau dapur umum bisa berkoordinasi dengan BPBD. Kalau tim rescuer mengikuti klaster pencarian di bawah Basarnas. Jadi semua sebenarnya sudah ada polanya, tinggal bagaimana kita merangkul dan menyatukan,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan dalam operasi pencarian korban, relawan mengikuti standar operasional prosedur yang sama dengan Basarnas, termasuk penggunaan alat pelindung diri saat bertugas di lapangan.
“SOP yang digunakan mengikuti Basarnas. Dalam operasi pencarian harus memakai APD lengkap seperti helm, sepatu keselamatan, dan perlengkapan lainnya,” katanya.
Sementara dalam distribusi logistik dan pengelolaan dapur umum, relawan biasanya mengikuti sistem koordinasi yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana maupun BPBD agar kebutuhan makanan bagi korban dapat terpenuhi secara merata.
Menurut Darmanto, koordinasi sangat penting agar distribusi bantuan tidak menimbulkan ketimpangan di lapangan.
Selain kegiatan tanggap darurat, Darmanto mengatakan komunitas relawan yang tergabung dalam Gadamusa juga rutin melakukan kegiatan mitigasi bencana kepada masyarakat.
Kegiatan edukasi tersebut dilakukan secara berkala untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana.
“Untuk mitigasi biasanya kita lakukan dua kali dalam sebulan untuk masyarakat umum yang masih awam terhadap kebencanaan,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan silaturahmi antarrelawan seperti ini dapat terus dilakukan untuk memperkuat koordinasi dan kolaborasi antarorganisasi relawan.
Menurutnya, dengan kolaborasi yang kuat, potensi relawan yang besar dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk membantu masyarakat ketika bencana terjadi.
