ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Di balik lima rumah sederhana di kawasan Pasteur, Kota Bandung, berdiri sosok Dewi Nurjana (52), atau yang akrab disapa Ambu. Selama 13 tahun terakhir, ia mendedikasikan hidupnya untuk mendampingi anak-anak penderita kanker dari keluarga tidak mampu melalui Rumah Pejuang Kanker Ambu.
Rumah singgah tersebut berlokasi di Jalan Bijaksana Dalam No. 11, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung. Tempat ini menjadi rumah kedua bagi pasien kanker anak beserta keluarganya yang tengah menjalani pengobatan jangka panjang di sejumlah rumah sakit rujukan di Bandung.
Rumah Pejuang Kanker Ambu lahir dari pengalaman pribadi Ambu yang pernah mendampingi anaknya berjuang melawan kanker hingga meninggal dunia. Dari duka tersebut, Ambu memilih bangkit dan mengabdikan diri untuk membantu anak-anak lain yang menghadapi kondisi serupa.
ADVERTISEMENT
“Ini bentuk rasa syukur saya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Anak saya sudah diberikan yang terbaik. Saya ingin perjuangannya tidak berhenti di situ,” ujar Ambu saat ditemui, Rabu (14/1/2026).
Sejak berdiri 13 tahun lalu, Ambu membuka pintu rumahnya bagi anak-anak penderita kanker, khususnya dari keluarga kurang mampu. Hingga kini, Rumah Pejuang Kanker Ambu mengelola lima rumah sewaan yang menampung pasien dan pendamping dari berbagai daerah di Jawa Barat. Bahkan, rumah singgah ini pernah menerima pasien dari Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Ambu menegaskan, rumah singgah yang dikelolanya bukan sekadar tempat tinggal sementara, melainkan rumah kedua bagi para pasien. Seluruh kebutuhan dasar difasilitasi, mulai dari tempat tinggal, konsumsi harian, hingga obat-obatan yang sebagian tidak ditanggung BPJS Kesehatan.
Selain itu, Rumah Pejuang Kanker Ambu juga menyediakan susu, popok, perlengkapan mandi, serta layanan antar-jemput pasien ke lima rumah sakit rujukan, yakni RS Hasan Sadikin, RS Al Islam, RS Cicendo, RS Hermina, dan RS Sentosa.
“Pengobatan kanker itu panjang, bisa tiga sampai lima tahun. Mereka bolak-balik rumah sakit. Di sini kami ingin anak-anak merasa aman dan diperlakukan secara manusiawi,” kata Ambu.
Dalam menjalankan aktivitasnya, Ambu mengaku tidak bergantung pada bantuan pemerintah. Menurutnya, bantuan negara hanya pernah diterima selama tiga bulan. Selebihnya, operasional rumah singgah sepenuhnya mengandalkan donasi masyarakat.
“Tidak ada sponsor tetap. Semua dari donatur, infak, sedekah, dan zakat orang-orang baik. Setiap bulan kami membuat laporan pengeluaran sebagai bentuk pertanggungjawaban,” jelasnya.
Saat ini, Rumah Pejuang Kanker Ambu dikelola oleh empat orang pengurus, dibantu dua sopir ambulans dengan tiga unit ambulans aktif. Ambu sendiri menetap di rumah singgah tersebut selama 24 jam untuk memastikan pasien mendapat pendampingan penuh.

Ia juga mengungkapkan bahwa momen terberat adalah saat harus mengantar anak-anak pejuang kanker yang meninggal dunia.
“Jam berapa pun, siang atau malam, kami siap mengantar, termasuk memfasilitasi pemulangan jenazah ke daerah asal,” tuturnya.
Meski tidak menyebut tantangan secara spesifik, Ambu mengakui keterbatasan dana menjadi kendala utama, terutama untuk kebutuhan medis di luar tanggungan BPJS, biaya operasional, serta santunan kematian.
Ke depan, Ambu berharap semakin banyak pihak yang tergerak membantu, termasuk melalui wakaf rumah agar operasional rumah singgah tidak lagi bergantung pada sistem sewa.
“Kalau ada yang mau mewakafkan rumah, itu menjadi harapan besar kami,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Ambu menyampaikan pesan kepada para orang tua yang anaknya tengah berjuang melawan kanker.
“Jangan takut dan jangan putus asa. Selama kita sudah berusaha, serahkan hasilnya kepada Allah. Pintu Rumah Pejuang Kanker Ambu selalu terbuka untuk yang membutuhkan,” katanya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






